Dalam berbagai kesempatan, kita bisa jumpai bahwa rata2 wanita bersuami di jaman sekarang lebih memilih berkarir. Dalam benak sebagian besar orang, bahwa berkarir adalah sebuah pilihan mulia dari seorang wanita karena tidak hanya terlibat dalam urusan rumah tangga, tapi juga bisa mengabdikan diri di masyarakat. Imej yg muncul adalah bahwa wanita karir itu lebih cerdas, bisa memakai rasio, hebat, modern, dan yg pasti tidak membosankan. Dan entah dari mana pandangan seperti ini muncul di kepala sebagian besar pencetak generasi.

Di sisi lain, imej ibu rumah tangga terkadang hanya dilirik sebelah mata, itupun terkadang sambil memicingkan mata. Ibu rumah tangga tidak lagi dianggap profesi, terlebih dianggap profesi mulia. Dia hanyalah dianggap sebatas profesi murahan. Wanita seperti ini biasa dianggap tidak cerdas, terlalu lemah, hanya bisa dipermainkan laki2, atau seabreg pandangan negatif lainnya.

Padahal, klo kita mau teliti lebih lanjut, seorang istri yg berperan sebagai ibu rumah tangga adalah wanita super hebat. Bagaimana tidak, wanita jenis ini bisa memadukan antara akal, otot, sekaligus perasaan. Tak seorangpun akan bilang klo memasak sama mencuci itu gampang. Atau juga mengatur keuangan yg hanya bersumber dari suami itu masalah sepele. Dan juga semuanya akan sepakat klo bersabar di saat anak2 rewel adalah pekerjaan yg teramat sulit. Tapi, apakah dibalik semua itu adalah bentuk dari sikap kesewenang2an laki2?? Terlebih klo ada yg menganggap bahwa itu sebagai bentuk penindasan terhadap wanita. Sungguh sangkaan yg keliru.

Dari sudut pandang Islam, seorang ibu adalah sosok yg paling berhak memelihara anak. Tentunya beban ini tidak asal begitu saja Allah sematkan di tangan para ibu. Allah senantiasa tau betul akan ciptaan-Nya, dimana emang wanitalah yg paling pantas memelihara dan mendidik anak berdasarkan faktor perasaan dan kasih sayang yg dominan dalam diri kaum hawa ini. Sebagai mana firman-Nya dalam surat Al-Qashash ayat 10, bahwa :

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (QS Al-Qashash, 10)

Dari ayat tersebut mengindikasikan bahwa setelah Ibunya Musa menghanyutkannya di sungai Nil, timbul penyesalan yg mendalam karena kekhawatirannya akan keselamatan Musa, dan konon ia hampir berteriak minta tolong untuk mengambil anaknya kembali. Tapi dia sadar bahwa hal itu justru akan membuka rahasia bahwa Musa adalah anaknya, yg pada waktu itu ada perintah pembunuhan terhadap setiap bayi laki2.

Atau juga klo kita baca surat Al Baqarah ayat 233, bahwa kaum ibu hendaknya menyusui anaknya selama 2 tahun, sebagai penyempurnaan penyusuan. Tentunya lagi2 peranan ibu sangat penting dalam mencetak generasi unggul. Dan ajaran Islam sudah sesuai fitrah, karena memang Allah Maha Mengetahui.

Belum lagi, klo kita mau menengok peran ibu rumah tangga dalam mengurusi suaminya. Tentunya akan semakin berat pula tanggung jawab perannya itu. Lantas, kenapa masih dianggap bahwa Ibu Rumah Tangga itu pekerjaan sampingan?? Atau bahkan disebut pekerjaan hina, yg hanya dilakukan oleh wanita yg kurang cerdas dan lemah??

Dengan beratnya beban dan tanggung jawab itu, justru wanita karirlah wanita yg sangat lemah. Hanya bisa berfungsi untuk satu fungsi kerja di kantornya. Dan bahkan, biasanya wanita karir lebih nurut sama Bossnya ketimbang suaminya. Karena pikirnya bahwa Boss-lah yg menggaji, sedangkan suami tidak. Padahal, disamping beban berat yg diembang seorang istri, suami juga dibebani mencari nafkah menurut Islam. Jadi klo ada suami yg menyerah dalam mencari nafkah, tidak ubahnya seperti banci. Seorang suami hendaknya bertanggung jawab, karena memang dari segi fisik Allah ‘melebihkannya’, dan ini sudah sesuai fitrah juga.

Nah, dari paparan di atas, masihkan pekerjaan Ibu Rumah Tangga dianggap hina?? Masihkan dianggap pekerjaan sampingan yg membosankan, yg tidak bernilai apa2?? Klo kita berkata tidak demikian, maka seorang istri hendaknya tidak perlu malu, bahkan mesti bangga klo jadi Ibu Rumah Tangga. Dan suamipun gak perlu minder dengan profesi istrinya. Justru dengan begitu, peran pasangan sesuai dengan fungsinya. Dimana pasangan berarti saling melengkapi yg tidak lengkap, bukan saling menggantikan atau bahkan berlomba saling menjatuhkan. Ibaratnya, sepasang sepatu, tentunya adalah satu sepatu kanan dan satunya lagi kiri. Dalam hal ini, tentunya keduanya berbeda bentuk tapi saling melengkapi. So, sungguh hebat seorang istri yg jadi Ibu Rumah Tangga. Dengan seabreg beban yg dibebankan, masih sanggup pula melayani suami dengan senyuman dan kasih sayang. Berbahagialah suami yg memiliki istri seperti itu. Berdoalah!!

(Repost dari blog sebelumnya http://rizts.blog.m3-access.com/posts/21570_Pekerjaan-Hina-Wanita.html)

15 com

Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran keurgensian tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:
“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan ketrampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersbut.”

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini”
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat. Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.

Persiapan Ruhiah

Menyadari besarnya tugas seorang ibu, maka seorang wanita harus banyak-banyak melakukan pendekatan kepada Allah SWT untuk memohon kekuatan ruhiah dan petunjuk dalam mendidik titipan Allah swt tersebut. Oleh karena itu seorang muslimah harus senantiasa mendirikan ibadah-ibadah selain ibadah wajib. Seorang wanita sholihah ialah muslimah yang mengimani bahwa Allah SWT adalah Robbnya, Muhammad saw adalah Nabinya dan Islam adalah diennya. Ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat terhadap perintah keduanya dan menjadikan ketaatannya itu sebagai filter yang membentengi dirinya dari kemaksiatan.

Seorang ibu yang sholihah amatlah penting karena ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak pada masa-masa balita. Inilah kesempatan untuk menanamkan aqidah keislaman dalam diri anak-anaknya dan mereka didik sang permata hati untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari kemaksiatan dan akhlaq yang rusak. Selain itu ibu yang sholihah diharapkan mampu menciptakan sebuah rumah tangga sakinah yang sangat diperlukan untuk perkembangan jiwa anak. Dalam persiapan ruhiyah ini banyak hal yang dapat dilakukan sebagai santapan rohani yang bermanfaat seperti:

  • Dzikrullah dan Tilawatil Qur’an. Dengan dzikrullah, seseorang akan bertambah cinta dan taqwa kepada Allah dan Allah pun ingat kepadanya sesuai firman Allah SWT: “Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu”. (QS. Al-Baqarah: 152)
  • Menghafalkan Al-Qur’an
  • Memperbanyak Istighfar
  • Memperbanyak Doa
  • Memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah saw.
  • Qiyamullail
  • Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah
  • Membiasakan hal-hal yang baik.

Jika seorang ingin anaknya rajin bersedekah, maka biasakanlah untuk sering bersedekah karena anak biasanya membutuhkan contoh dari orang tuanya. Jika kita ingin anak kita tidak berdusta, maka janganlah kita contohkan berkata dusta. Jika kita ingin anak kita menghormati kita sebagai orang tuanya, maka hormatilah kedua orang tua kita. Jika kita ingin anak kita tidak berkata dan berbuat kasar, maka berhati-hatilah dalam berbicara karena anak akan merekam dan meniru apa yang diucapkan orang tua atau lingkungannya.

Persiapan Aqliah

“Buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan ke dapur-dapur juga..” Ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai pernyataan tidak pentingnya kaum wanita menuntut ilmu. Pada sebagai sebuah sekolah bagi anak-anaknya, ibu yang berpendidikan lebih dibutuhkan. Seorang ibu yang pintar dapat berfikir kreatif bagaimana cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Setidaknya seorang ibu yang mencintai pendidikan akan selalu mementingkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Untuk menjadi seorang ibu yang pintar tidak harus selalu mendapatkan pengetahuan dari bangku sekolah atau kuliah. Cara yang paling efektif dalam mengembangkan wawasan seorang wanita ialah dengan banyak membaca. Kini sudah banyak tersedia buku-buku tentang metode pendidikan anak secara islami yang menerangkan apa saja hak-hak anak, mendidik anak sesuai tahap perkembangannya, dan tentang kesalahan cara pendidikan anak dan solusinya. Bahkan kini sudah banyak beredar buku yang membicarakan cara-cara mendidik anak sejak dalam kandungan. Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk dapat mengobati atau memberikan pertolongan pertama pada anak kita yang sakit. Kini sudah banyak buku-buku yang menerangkan tentang makanan apa saja yang bermanfaat bagi perkembangan tubuh dan otak anak, obat-obatan tradisional, cara menangani pertolongan pertama pada anak, dan lain-lain. Selain membaca, banyak sarana lain yang dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan seperti mengikuti berbagai seminar, ceramah, atau diskusi yang membahas tentang pendidikan anak.

Persiapan Jasmaniah

Kekuatan fisik merupakan hal yang patut diperhatikan oleh seorang calon ibu. Seorang wanita membutuhkan ketahanan fisik untuk menghadapi masa-masa kehamilan dan menyusui. Bagaimana calon ibu dapat mempertahankan kesehatan janin bila ia sudah direpotkan dengan berbagai penyakit karena akibat tidak bisa menjaga kesehatan. Masa kehamilan adalah masa-masa yang membutuhkan kesehatan fisik wanita secara prima. Allah SWT menggambarkan kelemahan seorang ibu ketika masa kehamilan dalam ayat berikut ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Untuk itu seorang muslimah diharuskan menjaga kesehatannya sedini mungkin. Berikut ini ada beberapa kiat sehat ala Rasulullah saw:

  • Selalu bangun sebelum Shubuh. Selain untuk mendapatkan kesegaran udara, bangun sebelum shubuh juga memberikan hikmah berupa berlimpahnya pahala dari Allah dan untuk memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.
  • Aktif Menjaga Kebersihan * Tidak Pernah Banyak Makan
  • Gemar Berjalan Kaki * Tidak Pemarah
  • Optimis dan Tidak Putus Asa * Tak Pernah Iri Hati

Demikianlah persiapan-persiapan dasar yang harus dilakukan seorang wanita sebagai calon ibu pencetak generasi qur’ani yang akan membangun suatu bangsa. Mudah-mudahan kita semakin siap memikul tugas keibuan yang berat tapi mulia ini sehingga kita menjadi ibu yang didambakan oleh umat. Amin

Sumber Bacaan:

  • Bukan Sembarang Ibu, Muhammad Hassan, Bina Mitra Press 1997
  • Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim, Khairiyah Husain Taha Shabir, MA., CV. Firdaus, 2001
  • Pembersih Jiwa, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Penerjemah: Nabhani Idris. Pustaka, 1996

(al-dahwah.org)

none

Bagi sebagian besar pada jomblo yang belum nikah, tentunya ada bermacam-macam harapan tentang calon pendamping hidupnya. Mulai dari yang mengedepankan aspek fisik, entah itu tampan ataupun cantik, dan itu sangatlah manusiawi. Ada juga yang lebih menitik beratkan pada kekayaan yang dimiliki calon pendamping. Atau kadang masih ada juga yang sangat memperhatikan status sosial. Tetapi, agama kita lebih menuntun kita untuk memilih pasangan berdasarkan agamanya.

Dari berbagai perbedaan fokus penilaian di atas, tentunya mesti disesuaikan dengan kondisi kita sendiri, atau dengan kata lain sekufu. Seringkali kita dihadapkan pada kondisi dimana naluri bertentangan dengan kondisi kita. Lalu apa yang mesti dikedepankan??

Apabila kita dihadapkan pada kondisi seperti itu, kita bisa saja pilih yang mana saja. Kalau pilihan jatuh pada opsi pertama (naluri/cinta/kecenderungan), sering kali kita akan disebut pejuang cinta. Mereka sering berargumen bahwa cinta mengalahkan segalanya. Atau juga penjelasan bahwa cinta menerima apa adanya. Mungkin ada benarnya juga, tatkala kondisi kita tidak semata-mata mengedepankan syahwat.

Pilihan lain yang bisa kita pilih adalah mempertimbangkan kondisi kita sendiri. Untuk model seperti ini, biasanya disebut idealis. Padahal, baik pemilih pertama maupun kedua tentunya sama-sama menginginkan yang ideal. Tapi, kenapa pemilih yang kedua yang disebut seperti itu?? Atau dengan pendapat lain yang mengatakan bahwa pemilih model ini termasuk katageri pemilih berkriteria tinggi. Pernahkah kita berpikir tentang kondisi orang yang bersangkutan?? Misalnya saja ketika seseorang berharap mempunyai istri yang pandai memasak, dimana kondisi ekonomi si pria kurang. Diharapkan dengan pandainya istri memasak bisa sedikit “irit” dalam hal pengeluaran. Atau ketika ada seseorang mengharap istrinya tidak bekerja, bisa jadi si pria mengharap agar generasi penerusnya lebih baik karena bimbingan langsung dari si ibu.

Kalau kita kembali kepada tuntunan agama kita, tentunya kita akan mengedepankan masalah agama. Tapi seringkali masalah agama juga dilihat hanya sebelah mata. Bagi mereka yang alergi terhadap agamanya (aneh memang, kenapa dipilih tapi alergi, tanya kenapa??), tentunya masalah agama gak masuk hitungan (kecuali persepsi ideal itu sendiri). Bagi mereka yang biasa disebut aktifis dakwah, secara kasat mata memang terlihat mengedepan faktor agama. Walaupun kalau kita mau telaah secara seksama, kebanyakan dari mereka hanyalah berkutat seputar teoritis semata. Banyak yang secara dakwah (klo bisa dikatakan dakwah), secara teori apalagi praktek dalam pernikahan masih sangatlah prematur.

Diantara mereka yang sering berkecimpung dalam dunia yang mereka anggap dakwah, mereka cenderung kurang memperhatikan dakwah terhadap keluarga sendiri. Padahal penjelasan dalam surat at-Tahrim ayat 6, dimana penekanannya terhadap keluarga dulu. Tapi mereka yang berlabel aktifispun gak ngerti kewajiban mengurus keluarga dengan sunnahnya dakwah di luar. Keluarga “terlantar” dengan alasan dakwah. Dakwah apa yg keluarganya gak keurus?? Apakah Rasul seperti itu?? Dan ini bukan berarti egois. Atau juga yang kurang paham dengan anggapan istri bekerja membantu suami, suami ridlo istrinya bekerja diluar tanpa hijjab yang nyata. Dimana setelah melahirkan, cuman dikasih waktu 3 bulan buat ngurus anak. Ayam aja ngurus anaknya sampe anaknya bisa nyari makan sendiri, koq manusia bisa gitu ya??

Ya, jaman emang sudah aneh, bentar lagi mo kiamat, definisi dakwah makin gak jelas, sampe2 demostrasi aja dianggap dakwah. Ketika ada seseorang yg mencoba mengedepankan keluarga, dianggap gak realistis, terutama karena alasan ekonomis. Semoga kita senantiasa ditunjukkan dan dibersihkan hati oleh Allah ke jalan yang lurus dan benar.

Uneg2 pagi depan kompie

none

Klo kita jalan2 ke mall, banyak kita jumpai cewek2 pake pakaian super ketat. Tapi, sebenarnya seeh gak perlu ke mall, wong di sekitar kita juga sering menjumpainya koq. Dan usianya pun beragam, mulai dari yg masih sekolah, kuliah, sampe yg tante2 juga pake yg sama. Nyamankah?? Belum tentu, klo modis, kayaknya seeh mereka bakal kompak menjawab, “Tentu donk”. Tapi benarkah??

Klo kita mau sedikit melakukan penelitian kecil2an, terutama yg menyangkut masalah kenyamanan, kita sering lihat koq. Tidak sedikit bahwa mereka yg pake pakaian super ketat itu justru sering merasa tidak nyaman, terlebih klo di dekatnya ada cowok. Misalnya klo mereka mo naik or turun angkot, pasti tangannya narik kaosnya yg super ketat itu. Atau klo pake rok yg kurang bahan, pasti dia bakal pake tangan atau bukunya buat nutupin. Bisa juga klo belahan lehernya terlalu bawah, pake buku juga buat nutupin. Lantas biasanya saya berpikir, “Apa mereka semua itu munafik??”

Kenapa saya katakan munafik?? Karena di satu sisi mereka kayaknya ngikutin banget trend yg berkembang sekarang, terutama di dunia barat sono.Tapi di sisi lain, mereka tidak sepenuhnya siap mengumbar tubuhnya untuk dinikmati orang lain.

Mungkin bagi cowok, mau diakui atau tidak, yg jelas senang melihat pemandangan seperti itu. Cuman biasanya ada tiga sikap yg bakal dilakukan itu cowok. Pertama, mereka langsung memalingkan muka, terlebih klo sudah paham dan sadar betul tentang agama. Kedua, biasanya tipe yg malu2 kucing. Model gini biasanya curi2 pandang klo ada sedikit pemandangan. Nah, klo yg ketiga ya langsung pelototin aja.

Terlepas dari perbedaan tsb, adalah fitrah bagi laki2 senang melihat yg model gituan. Tapi anehnya, terkesan pameran tapi gak mau dilihat?? Sungguh benar2 munafik.

Ya, kita semua akui klo di jaman yg super edan kayak gini, makin banyak godaan bagi laki2. Klopun si cowok itu sadar, dan berusaha memalingkan muka, eh di arah memalingkan mukapun biasanya ketemu hal serupa. Sungguh berat sekali godaannya. Karena itu, sadarlah wahai wanita, bahwa sesungguhnya engkau adalah menarik, karena itu lindungilah sehingga kau bener2 bagai mutiara yg berharga. Jangan asal ngikutin mode, alih2 modis, justru yg terlihat adalah kesan nudis.

none

Dibalik “Topeng” Muslimah

Akhir2 ini, terkadang kita merasa bangga dengan kondisi saat ini. Banyak sekali muslimah yg makin sadar (setidaknya terkesan sadar) memakai jilbab (atau apa ya namanya??). Hampir di berbagai tempat kita jumpai, wanita2 muslimah pada pake jilbab, entah itu di Mall, Kampus, Pasar, tempat kerja, dll. Semua itu, sedikitnya memberikan sebuah harapan yg besar.

Di sisi lain, pemakaiannya koq tidak diimbangi dengan pengetahuan yg cukup tentang menjaga hijab, dalam hal ini tau konsekuesinya. Tentunya, lebih baik lagi klo ditambah pengetahuan yg cukup tentang agama. Misalnya, tau tentang hukum bersentuhan tangan, ikhtilat, dsb. Tapi, kenyataan di lapangan, koq beda jauh banget. Sampe2 saya sendiri gak bisa langsung respect sama yg pake jilbab, harus lihat2 dulu gitu.
Tidak sedikit yg pake jilbab tapi pacaran, atau bahkan nginep di tempat cowoknya. Dalam hatipun bergumam : “Wah, ada kebo pake kerudung neeh”. Aneh. Saya koq jadi merasa aneh yah, apa mereka gak ngerti, bego, atau gimana?? Klo bodoh, ya sadar diri lah, belajar gitu, wong saya aja masih bodoh koq. Dan anehnya lagi, pandangan kebanyakan kita menganggap bahwa klo udah pake jilbab, langsung dibilang sholehah lah, atau apapun namanya.

Suatu ketika saya ketemu temen2 saya, kebetulan baru beberapa hari setelah lebaran.
Biasalah, kebiasaan di kita khan baru pada minta maaf setelah lebaran. Tak sedikit dari mereka yg pada bawa ceweknya yg pake topeng (baca kerudung). Dan tambah aneh lagi, cewek2 di sana yg pada pake topeng tsb langsung ngajak salaman. Saya hanya angkat tangan di depan dada aja deh. Saya hanya berpikir, mungkin mereka blom paham. Tapi anehnya, koq tiap tahun sama aja yah?? Gitu2 juga?? Bodoh koq dipelihara. Malu2in banget.

Dari kejadian tsb, saya koq kadang jadi berburuk sangka. Jangan2 mereka pake topeng hanya karena gak bisa dandan, atau kurang gaul aja. Biar bagaimanapun juga, gini2 juga pernah gaul gitu lho .., hehe. Dan emang kebanyakan ya emang gitu, yg pada pake topeng hanya karena gak bisa dandan, atau gak biasa gaul biasanya. Karena pas saya ajak diskusi masalah gaul dan tempat2 gaul, pada gak tau tuh …

Lantas, apa kita mesti diam saja?? Terus terang, saya blom bisa nasehatin orang, wong saya sendiri masih banyak yg perlu diberesin. Mungkin, saya hanya bisa berdoa, semoga mereka tambah paham aja deh. Mungkin juga, ada rekan2 yg sanggup, ya silahkan, saya support dengan doa aja deh, maklum imannya masih sangat sangat lemah.

Ada baiknya, kaum wanita merenungi ayat di bawah ini :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur, 24:31)

Mudah2an Allah senantiasa menunjukkan jalan-Nya kepada kita semua selaku hamba-Nya. Amin.

none