Menurut hasil survey, hasil polling untuk daerah Bandung saja sekitar 10% remaja sudah melakukan seks pranikah. Sekitar 50% dari remaja puteri pelaku seks hamil, dan 90% diantaranya melakukan aborsi. Sungguh angka yang cukup mengerikan.

Data diatas mengindikasikan bahwa skes bebas sudah menjadi hal yang dianggap biasa bagi sebagian remaja. Seks pranikah sudah tidak lagi dianggap tabu. Dengan berbagai alasan tidak ilmiah semacam karena tuntutan jaman, asalkan suka sama suka, dan sebagainya.

Hal lain penyebab semua ini diantaranya adalah televisi. Suka atau tidak suka bahwa televisi berperan besar karena tayangan-tayangan yang tidak mencerminkan budaya ketimuran, apalagi masalah religi. Dan tentunya juga karena kurangnya pendidikan agama. Dimana di jaman sekarang ini, orang tua lebih cemas melihat anaknya belum dapat kerja dibandingkan mendapatkan pendidikan agama yang cukup. Hal ini terus berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Islam, zina adalah perbuatan dosa yang masuk kategori dosa besar. Allah berfirman :

Dan ja-nganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [Q.S. Al-Israa’:32]

Mereka bahkan tidak sadar akan kelanjutan masa depannya. Karena Allah berfirman juga bahwa

Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nuur : 3]

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia (Surga).” [An-Nuur : 26]

Dalam ayat memperlihatkan bahwa hukum Allah benar-benar adil, dimana pasangan kita sebenarnya adalah cerminan dari diri kita sendiri, jikalau kita baik maka insya Allah kita juga akan mendapat pasangan yang baik pula. Namun apabila keduanya telah bertaubat dengan taubat yang nashuha (benar, jujur dan ikhlas) dan masing-masing memperbaiki diri, maka boleh dinikahi. Karena itulah, bila kita sampai terjerumus ke dalam perkara rusak tersebut, maka cepatlah bertaubat kepada Allah. Dan ingat, awas bahaya KTM (Kawin Tanpa Menikah)

none

MediaMuslim.Info - Akhir-akhir ini telah muncul sekelompok wanita yang menyimpang dari fitrah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah
menciptakan manusia di atas fitrah itu. Mereka menunjukkan sifat yang
tidak sesuai dengan tabiat kewanitaan mereka, padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah
menjadikan tabiat tersebut untuk membedakan dengan tabiat laki-laki.
Mereka menyangka bahwa mereka bisa berubah menjadi laki-laki dan
menjunjung dakwah emansipasi wanita yang kebablasan.

Akibatnya sekelompok wanita tersebut banyak menemui
kesulitan dan kesempitan, mereka mengalami problem fisik dan psikis,
menjadi wanita-wanita yang tersisihkan yang dibenci sekaligus menjadi
pelampiasan kemarahan suami dan anak-anak mereka.

Disamping
itu ada ancaman yang amat keras lagi bagi para wanita yang meyimpang
dari fitrah dan kodrat kewanitaan mereka serta menyerupai laki-laki
dalam hal berpakaian, penampilan, akhlak dan tindakan. Dalam sebuah
hadits shahih dari ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dia berkata: “Rasululloh
Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat laki-laki yang menyerupai
wanita dan wanita yang berpenampilan seperti laki-laki
” (HR: Al-Bukhari).

Laknat artinya terusir dan dijauhkan dari rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Hadits lain yang juga diterima dan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dia berkata: “Nabi
Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat kaum laki-laki yang
berpenampilan seperti wanita dan wanita yang berpenampilan laki-laki”
(HR:
Al-Bukhari). Wanita yang berpenampilan seperti laki-laki artinya yang
meniru-niru laki-laki dalam berpakaian dan penampilan. Adapun meniru
dalam hal ilmu dan pemikiran maka hal itu terpuji.

Dari Salim Bin Abdullah dari bapaknya, dia berkata: “Telah bersabda Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Ada
tiga golongan manusia yang tidak akan dipandang oleh Alloh Azza Wa
Jalla pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada orang tua, wanita
yang menyerupai laki-laki, dan Dayuts (orang yang tidak punya rasa
cemburu-red)”
(HR: An-Nasai)

Beberapa bentuk penyerupaan wanita terhadap laki-laki
Banyak
sekali bentuk penyerupaan wanita terhadap laki-laki. Masalah ini
tidaklah terbatas hanya dalam hal pakaian saja tetapi mencakup lebih
dari itu, diantara bentuk (penyerupaan) terhadap laki-laki yang sering
dilakukan oleh para wanita adalah:

  • Menyerupai
    laki-laki dalam hal berpakaian berupa memakai pakaian yang persis
    menyerupai pakaian laki-laki dan memakai celana panjang yang pada
    asalnya merupakan pakaian laki-laki dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa “Rasullulloh
    Shallallaahu alaihi wa Sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian
    wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki pernah ditanyakan
    kepada Aisyah Radhiallaahu anha bahwa ada seorang wanita yang memakai
    sandal (model laki-laki-pent), maka berkatalah Aisyah: “Rasullulloh
    Shallallaahu alaihi wa Sallam melaknat wanita yang meniru-niru
    laki-laki.”
    (HR: Abu Dawud).
  • Tidak
    berpegang teguh terhadap Hijab (pakaian wanita muslimah) yang
    disyariatkan. Imam Adz-Dzahabi berkata: “Diantara perbuatan yang
    menyebabkan terlaknatnya wanita adalah menampakkan perhiasan, emas dan
    berlian di balik hijab dan memakai wangi-wangian ketika keluar atau
    memakai pakaian yang mencolok (norak) … Semua itu termasuk tabarruj
    yang dimurkai Allah dan dimurkai pula orang yang melakukannya di dunia
    dan akhirat.”
  • Banyak keluar rumah
    tanpa ada keperluan baik bersama sopir pribadi, naik kendaraan umum
    atau menyetir sendiri seperti yang banyak terjadi dibeberapa negara
    atau berjalan kaki sekalipun jaraknya jauh.
  • Berdesak-desakan
    dengan laki-laki dan bercampur baur dengan mereka di pasar-pasar dan di
    tempat-tempat umum, bahkan sebagian mereka tidak merasa malu untuk
    mengantri di barisan laki-laki ketika menunggu, masuk dan duduk
    diantara laki-laki khususnya di lapangan bisnis.
  • Meninggikan
    suara dalam berbicara dengan laki-laki dengan suara yang keras sehingga
    terdengar dari kejauhan. Padahal tabiat seorang wanita biasanya
    berbicara rendah dan menghindari berbicara dengan laki-laki asing.
  • Meniru
    kebiasaan laki-laki dalam hal berjalan dan beraktifitas, berupa
    berjalan di pasar-pasar atau jalanan seperti berjalannya laki-laki
    dengan gagah menyerupai gerakan laki-laki yang menampakkan kegagahan
    dan kejantanan.
  • Kasar dalam
    bermuamalah dan berakhlak dengan keluarga dan kerabatnya, tidak lembut,
    galak, keras kepala dan tidak menghargai orang lain, semua ini tercela
    bagi laki-laki apalagi bagi wanita?
    Tidak memakai perhiasan yang
    khusus bagi wanita seperti pacar, celak mata, dan yang lainnya sehingga
    menjadi seperti laki-laki dalam bentuk dan penampilan. Aisyah Radhiallaahu anhu berkata: “Ada
    seorang wanita menyodorkan sebuah buku dengan tangannya dari balik
    hijab kepada Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliaupun
    mengambilnya lalu berkata: “Aku tidak tahu apakah ini tangan laki-laki
    ataukah tangan wanita?” Aisyah menjawab: “Tangan wanita.” Beliau
    berkata lagi: “Kalau engkau wanita maka engkau harus merubah
    kuku-kukumu,” maksudnya dengan pacar.”
    (HR: Abu Dawud)
  • Menyerupai
    laki-laki dalam berpenampilan berupa memotong rambut seperti potongan
    rambut laki-laki, memanjangkan kuku, posisi ketika berdiri atau duduk
    dan sebagainya.
  • Melepaskan diri
    dari pengawasan suami atau wali. Dia tidak mau menerima kalau dirinya
    berada di bawah pengaturan suami atau wali dia menginginkan kebebasan
    bertindak secara mutlak tanpa izin atau pengawasan laki-laki yang
    memang bertanggung jawab atas dirinya.
  • Bepergian
    tanpa mahram dengan berbagai alat transportasi dan yang paling masyur
    adalah pesawat terbang. Dia sendirilah yang membeli tiket, pergi ke
    bandara, dan bepergian tanpa mahram yang menyertainya dan melindunginya
    dari orang-orang fasik. Perbuatannya itu telah menyimpang dari diennya
    (agamanya) dan tabiatnya. Rasullulloh Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda, yang artinya:“Janganlah seorang wanita bepergian (safar) kecuali dengan mahramnya.” (muttafaq ‘alaih)
  • Sedikitnya
    rasa malu, seorang wanita tomboy telah tercabut rasa malu dari
    kepribadian dan akhlaknya, ia tak ubahnya seperti pohon bugil tak
    berkulit. Berbicara tentang segala hal, ngobrol dengan setiap orang
    pergi ke berbagai tempat tanpa rasa malu dan akhlak, sebagai mana sabda
    Rasullulloh Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang shahih:
    “Sesungguhnya diantara hal yang telah diketahui manusia dari ucapan
    para nabi yang dulu adalah: Kalau kamu tidak merasa malu maka
    bertindaklah semaumu.”

Inilah
beberapa bentuk penyerupaan wanita terhadap laki-laki yang keburukannya
begitu nyata dikalangan para wanita, dan hal ini amat patut disesalkan.
Dari penjelasan di atas bisa kita tarik kesimpulan yang menyeluruh
tentang definisi wanita tomboy yaitu: wanita yang menyerupai laki-laki
dalam hal berpakaian, penampilan, berjalan, berbicara, meninggikan
suara, beraktifitas dan bercampur baur. Atau secara ringkasnya bahwa
seorang wanita dikatakan tomboy kalau dia meniru seperti laki-laki
(padahal yang ia tiru adalah merupakan ciri laki-laki yang bertentangan
dengan kodrat kewanitaannya-pent).

Beberapa sebab seorang
wanita menjadi tomboy Ada beberapa penyebab yang mendorong seorang
wanita menjadi tomboy yang secara umum diantaranya adalah sebagai
berikut:

  • Kurangnya iman dan sedikitnya rasa takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala,
    karena terjerumusnya seseorang kepada maksiat baik dosa kecil ataupun
    dosa besar merupakan akibat dari kurangnya iman dan lemahnya perasaan
    merasa diawasi oleh Alloh Azza wa Jalla.
  • Pendidikan
    yang jelek, peribahasa mengatakan bahwa seseorang adalah anak bagi
    lingkungannya. Bila lingkungan tempat dia hidup merupakan lingkungan
    yang shaleh, maka diapun akan shaleh, kalau lingkungannya jelek maka
    diapun akan seperti itu. Seorang anak wanita yang hidup dirumah yang
    semrawut yang kosong dari pendidikan yang baik pada umumnya akan
    menyeret dia kepada berbagai penyimpangan.
  • Pengaruh
    media masa dengan berbagai bentuk dan jenisnya, baik tontonan, yang di
    dengar, ataupun bacaan. Di dalamnya berkembang dan tersebar
    pemikiran-pemikiran sesat dan penyimpangan yang akan menyesatkan para
    wanita dan mendorong mereka untuk melanggar norma agama dan
    prinsip-prinsip kebenaran.
  • Taklid
    buta, dia berpakaian dan berprilaku tanpa memahami dan mengetahui apa
    yang dia lakukan, juga tidak memikirkan manfaat dan madharaat-nya. Dia
    hanya sekedar ikut-ikutan kepada apa yang ada di sekitar dirinya, dari
    kawan-kawannnya dan dari para seniwati (artis atau bintang), sekalipun
    hal itu bertendengan tabiat kewanitaannya.
  • Kawan
    bergaul yang jelek, di antara hal yang tidak diragukan lagi adalah
    kawan bergaul yang mempunyai pengaruh besar dalam pribadi seseorang
    baik positif ataupun negatif. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Perumpamaan
    kawan bergaul yang saleh dengan kawan bergaul yang jelek seperti orang
    yang menjual minyak wangi dengan peniup pande besi (kiir). Panjual
    minyak wangi mungkin dia akan memberikan kepadamu atau kamu membeli
    darinya, atau kamu bisa mencium harumnya. Adapun peniup pande besi
    mungkin dia bisa membakar pakaianmu atau kamu mencium bau busuk
    darinya.”
    (Muttafaq ‘alaih).
  • Kurang
    percaya diri dan upaya menarik perhatian, sebagian wanita ada yang
    merasa kurang percaya diri dan berupaya menutup kekurangan itu dengan
    cara yang justeru menyeret mereka kepada keburukan yaitu menyerupai
    laki-laki dalam berperilaku, penampailan, pakaian dan sebagainya.
  • Contoh
    yang buruk, contoh (figur) merupakan unsur pendidikan yang terpenting.
    Kadang-kadang seorang ibu berprilaku menyerupai laki-laki lalu di
    contoh oleh anak perempuannya. Umumnya para anak wanita memiliki
    kepribadian karena mencontoh ibu-ibu mereka. Maka seorang ibu yang
    tidak menghargai dan tidak menghormati ayah, pada umumnya anak
    wanitanya pun bertabiat seperti itu yaitu tidak menghargai suami
    mereka. Dan seorang ibu yang kasar nada bicaranya dan selalu keras
    dalam bersuara maka anak wanita-nya pun akan mewarisi sifat ini pula.
  • Tidak
    adanya rasa cemburu dari suami atau walinya, sehingga tidak mencegah
    dia dari penyimpangan dalam masalah hijab dan pakaian dan tidak
    melarangnya dari perilaku tidak layak.

Demikian diantara sebab-sebab terpenting yang dapat menjerumuskan wanita ke dalam sikap meniru kaum laki-laki. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjaga
kita dari segala perbuatan yang menyelisihi syari’atNya serta
membimbing kita semua agar tetap diatas fitrah yang diridhaiNya.

(Sumber Rujukan: Nasyrah Darul Wathan, “Al-Mustarjilah, al-mar’ah al-musyabbihah bir rijal”, Hamud bin Ibrahim As-Sulaim)

none

Bagi sebagian besar pada jomblo yang belum nikah, tentunya ada bermacam-macam harapan tentang calon pendamping hidupnya. Mulai dari yang mengedepankan aspek fisik, entah itu tampan ataupun cantik, dan itu sangatlah manusiawi. Ada juga yang lebih menitik beratkan pada kekayaan yang dimiliki calon pendamping. Atau kadang masih ada juga yang sangat memperhatikan status sosial. Tetapi, agama kita lebih menuntun kita untuk memilih pasangan berdasarkan agamanya.

Dari berbagai perbedaan fokus penilaian di atas, tentunya mesti disesuaikan dengan kondisi kita sendiri, atau dengan kata lain sekufu. Seringkali kita dihadapkan pada kondisi dimana naluri bertentangan dengan kondisi kita. Lalu apa yang mesti dikedepankan??

Apabila kita dihadapkan pada kondisi seperti itu, kita bisa saja pilih yang mana saja. Kalau pilihan jatuh pada opsi pertama (naluri/cinta/kecenderungan), sering kali kita akan disebut pejuang cinta. Mereka sering berargumen bahwa cinta mengalahkan segalanya. Atau juga penjelasan bahwa cinta menerima apa adanya. Mungkin ada benarnya juga, tatkala kondisi kita tidak semata-mata mengedepankan syahwat.

Pilihan lain yang bisa kita pilih adalah mempertimbangkan kondisi kita sendiri. Untuk model seperti ini, biasanya disebut idealis. Padahal, baik pemilih pertama maupun kedua tentunya sama-sama menginginkan yang ideal. Tapi, kenapa pemilih yang kedua yang disebut seperti itu?? Atau dengan pendapat lain yang mengatakan bahwa pemilih model ini termasuk katageri pemilih berkriteria tinggi. Pernahkah kita berpikir tentang kondisi orang yang bersangkutan?? Misalnya saja ketika seseorang berharap mempunyai istri yang pandai memasak, dimana kondisi ekonomi si pria kurang. Diharapkan dengan pandainya istri memasak bisa sedikit “irit” dalam hal pengeluaran. Atau ketika ada seseorang mengharap istrinya tidak bekerja, bisa jadi si pria mengharap agar generasi penerusnya lebih baik karena bimbingan langsung dari si ibu.

Kalau kita kembali kepada tuntunan agama kita, tentunya kita akan mengedepankan masalah agama. Tapi seringkali masalah agama juga dilihat hanya sebelah mata. Bagi mereka yang alergi terhadap agamanya (aneh memang, kenapa dipilih tapi alergi, tanya kenapa??), tentunya masalah agama gak masuk hitungan (kecuali persepsi ideal itu sendiri). Bagi mereka yang biasa disebut aktifis dakwah, secara kasat mata memang terlihat mengedepan faktor agama. Walaupun kalau kita mau telaah secara seksama, kebanyakan dari mereka hanyalah berkutat seputar teoritis semata. Banyak yang secara dakwah (klo bisa dikatakan dakwah), secara teori apalagi praktek dalam pernikahan masih sangatlah prematur.

Diantara mereka yang sering berkecimpung dalam dunia yang mereka anggap dakwah, mereka cenderung kurang memperhatikan dakwah terhadap keluarga sendiri. Padahal penjelasan dalam surat at-Tahrim ayat 6, dimana penekanannya terhadap keluarga dulu. Tapi mereka yang berlabel aktifispun gak ngerti kewajiban mengurus keluarga dengan sunnahnya dakwah di luar. Keluarga “terlantar” dengan alasan dakwah. Dakwah apa yg keluarganya gak keurus?? Apakah Rasul seperti itu?? Dan ini bukan berarti egois. Atau juga yang kurang paham dengan anggapan istri bekerja membantu suami, suami ridlo istrinya bekerja diluar tanpa hijjab yang nyata. Dimana setelah melahirkan, cuman dikasih waktu 3 bulan buat ngurus anak. Ayam aja ngurus anaknya sampe anaknya bisa nyari makan sendiri, koq manusia bisa gitu ya??

Ya, jaman emang sudah aneh, bentar lagi mo kiamat, definisi dakwah makin gak jelas, sampe2 demostrasi aja dianggap dakwah. Ketika ada seseorang yg mencoba mengedepankan keluarga, dianggap gak realistis, terutama karena alasan ekonomis. Semoga kita senantiasa ditunjukkan dan dibersihkan hati oleh Allah ke jalan yang lurus dan benar.

Uneg2 pagi depan kompie

none

Klo kita jalan2 ke mall, banyak kita jumpai cewek2 pake pakaian super ketat. Tapi, sebenarnya seeh gak perlu ke mall, wong di sekitar kita juga sering menjumpainya koq. Dan usianya pun beragam, mulai dari yg masih sekolah, kuliah, sampe yg tante2 juga pake yg sama. Nyamankah?? Belum tentu, klo modis, kayaknya seeh mereka bakal kompak menjawab, “Tentu donk”. Tapi benarkah??

Klo kita mau sedikit melakukan penelitian kecil2an, terutama yg menyangkut masalah kenyamanan, kita sering lihat koq. Tidak sedikit bahwa mereka yg pake pakaian super ketat itu justru sering merasa tidak nyaman, terlebih klo di dekatnya ada cowok. Misalnya klo mereka mo naik or turun angkot, pasti tangannya narik kaosnya yg super ketat itu. Atau klo pake rok yg kurang bahan, pasti dia bakal pake tangan atau bukunya buat nutupin. Bisa juga klo belahan lehernya terlalu bawah, pake buku juga buat nutupin. Lantas biasanya saya berpikir, “Apa mereka semua itu munafik??”

Kenapa saya katakan munafik?? Karena di satu sisi mereka kayaknya ngikutin banget trend yg berkembang sekarang, terutama di dunia barat sono.Tapi di sisi lain, mereka tidak sepenuhnya siap mengumbar tubuhnya untuk dinikmati orang lain.

Mungkin bagi cowok, mau diakui atau tidak, yg jelas senang melihat pemandangan seperti itu. Cuman biasanya ada tiga sikap yg bakal dilakukan itu cowok. Pertama, mereka langsung memalingkan muka, terlebih klo sudah paham dan sadar betul tentang agama. Kedua, biasanya tipe yg malu2 kucing. Model gini biasanya curi2 pandang klo ada sedikit pemandangan. Nah, klo yg ketiga ya langsung pelototin aja.

Terlepas dari perbedaan tsb, adalah fitrah bagi laki2 senang melihat yg model gituan. Tapi anehnya, terkesan pameran tapi gak mau dilihat?? Sungguh benar2 munafik.

Ya, kita semua akui klo di jaman yg super edan kayak gini, makin banyak godaan bagi laki2. Klopun si cowok itu sadar, dan berusaha memalingkan muka, eh di arah memalingkan mukapun biasanya ketemu hal serupa. Sungguh berat sekali godaannya. Karena itu, sadarlah wahai wanita, bahwa sesungguhnya engkau adalah menarik, karena itu lindungilah sehingga kau bener2 bagai mutiara yg berharga. Jangan asal ngikutin mode, alih2 modis, justru yg terlihat adalah kesan nudis.

none

Anak muda jaman sekarang (sebenarnya, masih muda juga koq ) pasti sudah pada kenal dan mungkin sudah pada praktek pacaran. (Wong aku juga pernah koq ). Dan tidak sedikit pula, anak SD pun, sudah mengenal dan mempraktekan hal yg satu ini. Gak tau dari mana mereka tau, cuman kayaknya seeh dari tv. Karena klo kita mau melihat umur, tentunya anak sekecil itu gak semestinya udah tau.

Oke, mungkin tadi cuman prolog. Mari kita coba ulas lebih lanjut. Dan ternyata, klo kita melakukan pacaran, bisa jadi dua2nya rugi, cuman yg paling rugi ya wanita. Oke lah, kita jangan langsung bilang “dosa”, karena sudah barang tentu kita semua sudah tau, cuman biasanya bikin kebanyakan kuping pada panas, klo mendengar kata tsb. Dan emang, sebenarnya diluar “dosa” itu sendiri, masih tersimpan banyak kerugian. Klo dari sisi cowok, tentunya pada saat2 awal penjajakan (alias dalam masa penyergapan ), tentunya banyak keluar modal khan?? Padahal, klo modal itu mau kita alokasikan ke hal2 yg lebih produktif, wah banyak tuh untungnya. Cuman, klo dialokasikan untuk pacaran, mestinya seorang cowok berani ngomong gini (minimal dalam hari), “Siapa lo, istri bukan, saudara bukan, eh banyak mintanya lo”. Cuman mungkin, kebanyakan dari kita mikirnya gini, “Skrg gw keluar modal, nanti lo gw yg balik minta jatah” (Ups! ).

Klo pikiran pertama yg keluar, berarti pikirannya masih sehat dan gak ngeres (klo kotor mah disapu aje ye …). Tapi, klo pikiran kedua yg muncul, disinilah salah satu kerugian yg menimpa cewek. Suatu saat nanti, bisa saja klo si cewek sudah terperangkap (dan klo seorang cewek bener2 mencintai cowoknya, biasanya seeh si cowok sudah punya kartu As <bukan Jempol > ), ya si cowok tinggal narik setoran, wong DP-nya udah duluan koq. Klo si cowok masih rada2 alim seeh, mungkin paling banter cuman pegang2 doank. Tapi ada juga tipe2 malpinas, dimana tampangnya doank yg alim, aksinya busyetttttttt. Apalgi, klo si cowok bener2 agresif dan tipe yg gak mau tau, udah deh. Klo ngapel, sambil bawa balon. Dan yg model gini, sudah bukan dianggap tabu lagi. Apalagi di Jakarta udah ada ATMnya.

Oke, kita lupakan hal tsb sejenak. Biasanya, alasan mereka dalam berpacaran adalah sebagai penjajakan. Masa iya seeh penjajakan? Masa penjajakan gak kenal batas waktu?? Klopun ada jatuh temponya, biasanya klo udah ngerasa bosen. Dan lagi2 korbannya adalah wanita. Karena wanita akan dianggap tidak lebih dari barang dagangan, yg bisa kapan aja dicoba sampe bosen. Klo bener2 penjajakan mah, wong masa percobaan karyawan aja biasanya cuman 3 bulan. Ya, artinya gak selama praktek yg sekarang terjadi. Namanya juga penjajakan, ya buat mengenal doank, dan itupun untuk hal2 yg umum2nya. Lagian, gak jamin juga, klo orang pacarannya lama, lantas nikahnya langgeng.

Nah, dari situ sedikit terkuak deh tujuan dari pacaran, yaitu penjajahan. Penjajahannya bisa dari kedua pihak. Klo dari cewek, ya biar bisa morotin si cowok iinocent. Klo dari sisi cowok, tentunya bisa dikatakan ’suatu bentuk penguasaan’ (weleh2, kayak bahasa hukum ). Coba klo menikah, bisa dimasukkan kategori KDRT, cuman berhubung blom menikah ya gak bisa dituntut atuh. Lagian gak ada pengadilannya koq, wong suka sama suka. Karena itu, cobalah berpikir sehat (jangan kotor bin ngeres ), harus lihat ke depan. Jangan sampe, kita terjebak pacaran hanya untuk tujuan2 diatas. Atau klopun tidak, karena gak mau disebut gak gaul. Emang apa untungnya jadi anak gaul?? (Dulu gw malah jadi bokek, gara2nya gak tajir, selera tinggi ). So, buat para cowok, jangan salah gunakan kekuasaan. Klo buat cewek, ya jangan salah gunakan kepuasan (eh, maksudnya pemuasan ).

Sebuah coretan menunggu maghrib dan hujan

none