-
13
Dec
Poligami jelas sekali kehalalannya secara syar’i. Banyak dalil al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Sehingga sangatlah heran klo ada beberapa orang yang secara terang2an percaya ayat tsb tapi masih nolak. Tanya kenapa???
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisaa, 4:3)
Dalil tersebut menjelaskan bahwasanya klo laki2 justru lebih dianjurkan Poligami.
Karena, jelas sekali bahwa ayat tsb menyebutkan dua, tiga, atau empat. Nah, baru kemudian klo takut tidak adil, pilihlah satu. Jadi, pilihan satu itu adalah alternatif terakhir. Coba kita bayangkan, bagaimana bisa dikatakan adil, wong tidak ada pembandingnya. Misalnya gini deh, seorang terdakwa biasanya melakukan pembelaan terhadap tuntutan jaksa. Hakim baru akan mempertimbangkan klo ada bukti atau saksi. Artinya, perlu referensi lain sebagai pembanding. Atau gini deh, klo misalnya kita jadi anak tunggal, apa kita yakin akan keadilan orang tua kita? Wong wajar koq dia sayang, karena emang kita anak satu2nya. Tapi coba deh, klo saudara kita banyak, tapi orang tua sayang sama semuanya, atau setidaknya berusaha menyayangi semuanya, tentunya bisa dikatakan adil.
Jadi, adil itu akan tampak tatkala kita dihadapkan pada dua atau lebih obyek/kondisi, dimana kita memperlakukan obyek atau melakukan hal secara proporsional pada kedua atau lebih kondisi tersebut. Iya gak??
Kemudian klo kita coba simak salah satu rokok, dimana katanya (menurut pecandu rokok), klo rokok 234 itu enak lho, dan harganya mahal. Mungkin itu juga menunjukkan klo 2, 3, atau 4 itu enak dan menyenangkan, hehe. Jangan salah sangka dulu, karena parameternya bukan hanya seks semata lho …
Ada contoh kasus begini, dimana pada jaman dahulu (jaman engkong elo pade), M Natsir sama Sukarno berdebat tentang Poligami. M Natsir pro sama poligami, sedangkan Sukarno kontra sama Poligami. Sejarah mencatatnya gimana? Sapa yg istrinya banyak?? Klo udah gitu, termasuk orang apa tuh?? (Jawab sendiri aja lah …)
Emang seeh, dari pihak wanita biasanya yg lebih sensitif. Saya juga ngerti itu, wong ibu saya juga wanita, saya juga punya adik wanita. Toh, klo parameter kita bukan nafsu, tentunya tidak akan ada penolakan. Jadi, pada hakekatnya, yg nolak juga bisa dikatakan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Tapi masalah itu, silahkan aja deh, wong masing2 dari ktia yg bakal dimintai pertanggung jawabannya koq, gitu aja repot.
So, 234 bukanlah Dji-Sam-Soe (Hidji sampe soentuk), abis itu cari lagi setelah cerai, mirip artis. Amit2 deh …
none