MediaMuslim.Info - Tidak sedikit perempuan kita suka berkelit, menghindari peran dan kewajiban dasar yang dianggapnya sebagai masalah yang melilit. Yang gadis ingin selalu bebas dinamis, buntutnya malas untuk menjadi seorang istri. Giliran jadi istripun tak berhenti bikin sensasi, phobi untuk punya anak. Kalaupun terpaksa punya, cukup terpeleset sekali saja, katanya. Pun tidak mau memberikan ASInya, padahal bagi anak itulah yang paling baik dan enak.

Fenomena itu kini menyeruak di masyarakat bumi, tidak ketinggalan yang disebut nusantara ini. Dalam kehidupan dunia yang semakin global, perang tidak sekedar dengan rudal apalagi dengan pedang. Lewat media massa penjajahan tidak lagi kasat mata. Penjajah yang dijajah bisa satu asa dan satu rasa, sama-sama bangga. Penjajahan budaya, mengalir bersama kucuran dana. Feminisme, salah satu namanya.

Feminisme dijual dengan kemasan perjuangan perempuan, pembebasan wanita. Muncullah jargon  keseteraan jender. Perempuan dan laki-laki tidak beda sama sekali, kecuali pada fungsi reproduksi. Dianggap wajar bila menolak menggunakan hak reproduksinya. Bayangkan jika dianut semua wanita negeri ini, bisa-bisa tingkat kelahiran bayi di negara ini bisa dihitung dengan jari. Mereka membuat opini, seorang wanita yang rela sekedar jadi ibu rumah tangga berarti tidak punya harga. “Karena mau ditindas melakukan pekerjaan hina,“ suara kaum feminis membahana. Mereka seolah telah berjuang untuk wanita, peduli akan nasib golongan putri. Sehingga tak pelak lagi anak remaja kini termakan opini tadi. Ini yang mesti kita para keluarga muslim hadapi dengan bijaksana dan hati-hati.

Tidak bisa dipungkiri laki-laki dan wanita memang berbeda, ini sunnah ketetapan Sang Pencipta. Sempatkah kita memperhatikan jenis burung yang beraneka. Kakaktua paruhnya melengkung, karena makanannya biji-bijian, bukan kangkung. Si pelikan berkantung besar di bawah paruhnya untuk menyimpan ikan sebagai persediaan makanannya. Sang bangau berparuh amat panjang demi membantunnya memangsa ikan dalam air tanpa tenggelam. Subhanallah!

Begitu juga manusia, sejak berupa benih pun punya ciri yang tidak sama. Semakin dewasa kian banyak perbedaannya, tanpa dapat decegah dan dihindari. Otot laki-laki berkembang lebih kuat, organnya pun lebih berat. Bayi perempuan tumbuh dengan organ khas kewanitaan.

Tidak ada artinyakah perbedaan-perbedaan itu? Semua itu bukti adanya perbedaan esensial perempuan dan laki-laki. Dengan teliti dan sangat sempurna, Alloh Subhanahu wa Ta’ala rancang bentuk fisik sesuai dengan tugas masing-masing di sepanjang kehidupannya. Jujur harus diakui, perbedaan peran, tugas serta spesifikasi antara dua jenis kelamin manusia sudah dibawa secara fitrah sejak lahir. Sungguh tidak masuk akal (bagi akal yang sehat dan logis) jika ada yang berkata tak ada pembagian tugas baku antara keduanya, seperti pendapat kaum feminis.

Pembagian peran dan tanggung jawab sosial membawa implikasi pada perbedaan dalam berbagi bidang lain yang terkait dengan kehidupan rumah tangga. Ini yang diperangi para feminis. Berarti feminisme melanggar sunnatullah. Apapun kalau melanggar sunnatullah pasti berakibat pada pergeseran keseimbangan. Timpanglah kehidupan rumah tangga, kehidupan bermasyarakat dan seterusnya. Akhirnya timbul kekacauan.

Marilah disadari, kita –wanita dan pria- memang punya hak sebagai individu. Tapi ada yang tidak boleh dilupa, kita hidup di dunia ini punya misi. Kalau Alloh Subhanahu wa Ta’ala tetapkan laki-laki sebagai begitu juga wanita punya misi sesuai kodratnya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala pencipta kita, tentu Dia tahu apa yang terbaik bagi kita.

Pejuang di jalan-Nya akan selalu berhadapan dengan pejuang angkara murka. Marilah kita waspada, jangan jadikan keluarga kita korban feminisme radikal! Wallahu a’lam Bishshowab.

none

Menurut hasil survey, hasil polling untuk daerah Bandung saja sekitar 10% remaja sudah melakukan seks pranikah. Sekitar 50% dari remaja puteri pelaku seks hamil, dan 90% diantaranya melakukan aborsi. Sungguh angka yang cukup mengerikan.

Data diatas mengindikasikan bahwa skes bebas sudah menjadi hal yang dianggap biasa bagi sebagian remaja. Seks pranikah sudah tidak lagi dianggap tabu. Dengan berbagai alasan tidak ilmiah semacam karena tuntutan jaman, asalkan suka sama suka, dan sebagainya.

Hal lain penyebab semua ini diantaranya adalah televisi. Suka atau tidak suka bahwa televisi berperan besar karena tayangan-tayangan yang tidak mencerminkan budaya ketimuran, apalagi masalah religi. Dan tentunya juga karena kurangnya pendidikan agama. Dimana di jaman sekarang ini, orang tua lebih cemas melihat anaknya belum dapat kerja dibandingkan mendapatkan pendidikan agama yang cukup. Hal ini terus berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Islam, zina adalah perbuatan dosa yang masuk kategori dosa besar. Allah berfirman :

Dan ja-nganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [Q.S. Al-Israa’:32]

Mereka bahkan tidak sadar akan kelanjutan masa depannya. Karena Allah berfirman juga bahwa

Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nuur : 3]

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia (Surga).” [An-Nuur : 26]

Dalam ayat memperlihatkan bahwa hukum Allah benar-benar adil, dimana pasangan kita sebenarnya adalah cerminan dari diri kita sendiri, jikalau kita baik maka insya Allah kita juga akan mendapat pasangan yang baik pula. Namun apabila keduanya telah bertaubat dengan taubat yang nashuha (benar, jujur dan ikhlas) dan masing-masing memperbaiki diri, maka boleh dinikahi. Karena itulah, bila kita sampai terjerumus ke dalam perkara rusak tersebut, maka cepatlah bertaubat kepada Allah. Dan ingat, awas bahaya KTM (Kawin Tanpa Menikah)

none

Penulis : MHM
“Sungguh pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21)

Firman Allah di dalam Al Quran surah al-Ahzab ayat 21 tersebut memberitahukan bahwa idola setiap Muslim (termasuk remajanya) adalah Nabi Muhammad SAW. Sebab beliau merupakan panutan yang sempurna (uswatun hasanah). Remaja Muslim di Indonesia seharusnya mempelajari sejarah hidup panutan
umat ini, agar dapat mengidolakannya.

Tetapi sayang, sebagian besar remaja yang beragama Islam di Indonesia tidak menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola mereka tetapi justru para public figure, selebritis yang pada umumnya hidup serba glamour dan berhura-hura.

Sebagai contoh, ketika KH Fakhruddin HS (tokoh dan pemuka Islam, Ketua Umum PP Muhammadiyah) meninggal, meninggal pula Nike Ardilla, selebritis remaja yang sedang naik daun pada waktu itu, media massa baik di ibukota
maupun daerah sedikit saja memberitakan meninggalnya ulama dan tokoh Islam itu, sebaliknya berita tentang meninggalnya Nike Ardilla memenuhi haiaman Koran, tabloid, majalah serta tayangan di televisi. Salah satu
penyebabnya mungkin karena Nike Ardilla merupakan idola kaum remaja, termasuk yang beragama Islam.

Contoh lain lagi, setelah API (Akademi Fantasi Indonesia) sukses, pemenangnya langsung menjadi idola
remaja, dalam hal ini Fery dan Mawar. Tak selang lama, muncul pula Indonesian Idol yang melahirkan idolalain, yaitu Delon dan Joy. Tak ketinggalan, KDI (Kontes Dangdut Indonesia) melahirkan pula idola lain, di antaranya Aan dan Siti.

Makin Kabur

Program-program sejenis pun bermunculan dalam berbagai bentuk dan variasi. Tak hanya di bidang tarik suara, bisnis ini juga merambah ke dunia modeling dan akting. Anak-anak remaja (termasuk yang beragama Islam) pun “digarap”.
Misalnya lewat acara API Junior dan Bintang Cilik.

Demam “acara mencetak idola” itu tak sekadar menyedot perhatian remaja, tetapi juga para orang tua. Walhasil, semuanya ramai-ramai menikmati sajian yang membuat mereka mengidolakan bintang-bintang hasil remakaya televisi. Sebagai bukti dukungan, mereka mengirim SMS ke masing-masing idola. Hasilnya, sekitar 5 juta SMS yang dikirim untuk API 1 dan 8 jutaan untuk API II. Siapa dalam hal ini yang beruntung? Tentu perusahaan telepon seluler dan mitra usahanya.

Jangan heran jika seorang ABG mencoba bunuh diri, hanya gara-gara hobinya nonton API atau sejenis dihalangi kakaknya yang ingin menonton acara lain, Jutaan pemirsa rela duduk serius di rumah menonton tayangan yang membius itu. Yang melihat secara langsung, tua muda dan bocah cilik, histeris dan bergoyang sambil bernyanyi. Ketika proses eliminasi berlangsung, air mata pun menetes di mana-mana.

Berbeda dengan para remaja pada zaman Nabi. Air mata mereka menetes ketika membaca ayat-ayat Al Quran yang berisi wa’id fancaman azab neraka). Karena hati belum terisi iman yang substansial, maka remaja menjadi haus idola yang sekuler, yang lebih menampilkan aspek-aspek fisik seperti keren, gagah, ganteng atau cantik. Penonton dibuat terpesona dan rela mengirim SMS sebanyak-banyaknya, hanya agar idola mereka menang. Besoknya, remaja kebanjiran idola, yang sayangnya, terpilih bukan karena kualitas kepribadian atau keteladanan, melainkan hanya
karena mendapatkan respons via SMS paling banyak.

Antara Tuntunan dan Tontonan

Di sisi lain, sosok-sosok yang menampilkan keteladanan begitu langka. Figur-figur tertentu yang seharusnya menjadi teladan, nyatanya lebih tampak sebagai selebritis. Lebih menjadi tontonan di panggung ketimbang tuntunan dalam kehidupan sehah-hari, Maka kaum remaja perlu memahami hakikat idola dan teladan. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Orang yang tak patut diteladani, pasti tak layak dijadikan idola. Pertanyaannya kemudian, mau dibawa ke mana remaja umat ini? Siapa yang bertanggung jawab terhadap nasib umat yang, sadar atau tidak, perlahan makin terperosok ke jurang kehancuran? Mengapa orang lebih suka mencetak idola daripada keteladanan?

Dibutuhkan langkah-langkah cepat dan segera untuk menyelamatkan umat dari salah memilih figur. Hasilnya memang tak bisa dinikmati dalam waktu dekat. Menghadirkan sosok-sosok panutan jauh lebih sulit. Seperti halnya merusak jauh lebih mudah ketimbang membangun, Melahirkan figur teladan lebih banyak tantangan dan kendalanya. Kondisi ini pulalah yang hendaknya makin mendorong kesungguhan dan keseriusan dalam menggarap proyek-proyek keumatan, yang salah satunya adalah mencetak sosok-sosok teladan.

Analoginya sederhana. Kalau para pengusung kemungkaran sangat serius melakoni pekerjaan mereka, lantas mengapa kita yang bekerja pada proyek kebajikan begitu malas dan asal-asalan? Padahal, makin giat musuh umat menebar maksiat, mestinya kita makin giat menebar makruf secara konkret di tengah masyarakat.

Banjir idola hura-hura tetapi kering keteladanan membuat generasi muda kita kian lemah di berbagai lini. Lemah iman, lemah hati, lemah akhlak, lemah kemauan dan lemah kreativltas. Hasilnya lihat saja. Banyak remaja yang ingin cepat terkenal dan jadi idola, meski untuk itu rambu-rambu akhlak pun ditabrak!

Tak Berputus Asa

Betapa pun, kita punya Rasulullah SAW yang menjadi teladan sepanjang zaman. Bukan hanya umat Islam yang mengidolakannya, Banyak cendekiawan yang meskipun tidak memeluk Islam menyanjung Muhammad SAW laiknya idola. Michael H Hart, seorang penulis Barat, bahkan menempatkan Muhammad sebagai sosok yang paling mempengaruhi sejarah dan peradaban dunia.

Terdapat juga banyak sahabat Rasulullah ridhwanullahi ‘alaihim yang berjuang menegakkan kebenaran.

Jejak perjuangan mereka terekam indah dalam sirah (biografi). Sayangnya, buku-buku sirah yang banyak memuat contoh hidup indah dan berkualitas dari Rasulullah SAW dan para sahabat tak begitu diminati. Ulama yang merupakan pewaris para Nabi tak begitu laris diikuti.

Namun demikian, kita tak boleh berputus asa. Upaya membina remaja agar mengidolakan Nabi-Muhammad SAW harus tetap dilakukan. Caranya, intensifkan kembali pembinaan terhadap bocah-bocah dan ABG. Baik yang ada di sekolah, di rfjma’h dan di sekitar kita. Termasuk remaja yang pendidikannya terlantar, baik oleh kemiskinan ataupun oleh orangtua mereka yang kelewat sibuk sehingga lalai dari tanggungjawab mendidik anak sendiri.

none

April Mop

Pada tanggal 1 April orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop, yang hanya berlaku pada tanggal 1 April, adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orang tua, saudara, atau sejenisnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop.

Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Tahukah anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan ???

April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dibebaskan Islam pada abad ke- 8M oleh Panglima Thariq bin Ziyad,Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur.

Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Got dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al-Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai Pasukan Salib . Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan . Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granadadan berlayar meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai
pasukan Salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka.

Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bias berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara Salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib segara membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Wahai saudara-saudariku sesama Muslim, sampai hatikah Anda semua merayakan April Mop sekarang ini, setelah mengetahui apa yang sebenarnya melatarbelakangi perayaan yang diadakan dunia Barat setiap tanggal 1 April itu ???
Semoga membuka mata hati kita & Allah SWT akan menjadi saksi bagi kita semua. Amin.

Al-Baqarah ( 2 ) : 120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Al-Maidah ( 5 ) : 51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa
diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Dari milis tetangga

none

Bagi sebagian besar pada jomblo yang belum nikah, tentunya ada bermacam-macam harapan tentang calon pendamping hidupnya. Mulai dari yang mengedepankan aspek fisik, entah itu tampan ataupun cantik, dan itu sangatlah manusiawi. Ada juga yang lebih menitik beratkan pada kekayaan yang dimiliki calon pendamping. Atau kadang masih ada juga yang sangat memperhatikan status sosial. Tetapi, agama kita lebih menuntun kita untuk memilih pasangan berdasarkan agamanya.

Dari berbagai perbedaan fokus penilaian di atas, tentunya mesti disesuaikan dengan kondisi kita sendiri, atau dengan kata lain sekufu. Seringkali kita dihadapkan pada kondisi dimana naluri bertentangan dengan kondisi kita. Lalu apa yang mesti dikedepankan??

Apabila kita dihadapkan pada kondisi seperti itu, kita bisa saja pilih yang mana saja. Kalau pilihan jatuh pada opsi pertama (naluri/cinta/kecenderungan), sering kali kita akan disebut pejuang cinta. Mereka sering berargumen bahwa cinta mengalahkan segalanya. Atau juga penjelasan bahwa cinta menerima apa adanya. Mungkin ada benarnya juga, tatkala kondisi kita tidak semata-mata mengedepankan syahwat.

Pilihan lain yang bisa kita pilih adalah mempertimbangkan kondisi kita sendiri. Untuk model seperti ini, biasanya disebut idealis. Padahal, baik pemilih pertama maupun kedua tentunya sama-sama menginginkan yang ideal. Tapi, kenapa pemilih yang kedua yang disebut seperti itu?? Atau dengan pendapat lain yang mengatakan bahwa pemilih model ini termasuk katageri pemilih berkriteria tinggi. Pernahkah kita berpikir tentang kondisi orang yang bersangkutan?? Misalnya saja ketika seseorang berharap mempunyai istri yang pandai memasak, dimana kondisi ekonomi si pria kurang. Diharapkan dengan pandainya istri memasak bisa sedikit “irit” dalam hal pengeluaran. Atau ketika ada seseorang mengharap istrinya tidak bekerja, bisa jadi si pria mengharap agar generasi penerusnya lebih baik karena bimbingan langsung dari si ibu.

Kalau kita kembali kepada tuntunan agama kita, tentunya kita akan mengedepankan masalah agama. Tapi seringkali masalah agama juga dilihat hanya sebelah mata. Bagi mereka yang alergi terhadap agamanya (aneh memang, kenapa dipilih tapi alergi, tanya kenapa??), tentunya masalah agama gak masuk hitungan (kecuali persepsi ideal itu sendiri). Bagi mereka yang biasa disebut aktifis dakwah, secara kasat mata memang terlihat mengedepan faktor agama. Walaupun kalau kita mau telaah secara seksama, kebanyakan dari mereka hanyalah berkutat seputar teoritis semata. Banyak yang secara dakwah (klo bisa dikatakan dakwah), secara teori apalagi praktek dalam pernikahan masih sangatlah prematur.

Diantara mereka yang sering berkecimpung dalam dunia yang mereka anggap dakwah, mereka cenderung kurang memperhatikan dakwah terhadap keluarga sendiri. Padahal penjelasan dalam surat at-Tahrim ayat 6, dimana penekanannya terhadap keluarga dulu. Tapi mereka yang berlabel aktifispun gak ngerti kewajiban mengurus keluarga dengan sunnahnya dakwah di luar. Keluarga “terlantar” dengan alasan dakwah. Dakwah apa yg keluarganya gak keurus?? Apakah Rasul seperti itu?? Dan ini bukan berarti egois. Atau juga yang kurang paham dengan anggapan istri bekerja membantu suami, suami ridlo istrinya bekerja diluar tanpa hijjab yang nyata. Dimana setelah melahirkan, cuman dikasih waktu 3 bulan buat ngurus anak. Ayam aja ngurus anaknya sampe anaknya bisa nyari makan sendiri, koq manusia bisa gitu ya??

Ya, jaman emang sudah aneh, bentar lagi mo kiamat, definisi dakwah makin gak jelas, sampe2 demostrasi aja dianggap dakwah. Ketika ada seseorang yg mencoba mengedepankan keluarga, dianggap gak realistis, terutama karena alasan ekonomis. Semoga kita senantiasa ditunjukkan dan dibersihkan hati oleh Allah ke jalan yang lurus dan benar.

Uneg2 pagi depan kompie

none