Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran keurgensian tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:
“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan ketrampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersbut.”

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini”
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat. Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.

Persiapan Ruhiah

Menyadari besarnya tugas seorang ibu, maka seorang wanita harus banyak-banyak melakukan pendekatan kepada Allah SWT untuk memohon kekuatan ruhiah dan petunjuk dalam mendidik titipan Allah swt tersebut. Oleh karena itu seorang muslimah harus senantiasa mendirikan ibadah-ibadah selain ibadah wajib. Seorang wanita sholihah ialah muslimah yang mengimani bahwa Allah SWT adalah Robbnya, Muhammad saw adalah Nabinya dan Islam adalah diennya. Ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat terhadap perintah keduanya dan menjadikan ketaatannya itu sebagai filter yang membentengi dirinya dari kemaksiatan.

Seorang ibu yang sholihah amatlah penting karena ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak pada masa-masa balita. Inilah kesempatan untuk menanamkan aqidah keislaman dalam diri anak-anaknya dan mereka didik sang permata hati untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari kemaksiatan dan akhlaq yang rusak. Selain itu ibu yang sholihah diharapkan mampu menciptakan sebuah rumah tangga sakinah yang sangat diperlukan untuk perkembangan jiwa anak. Dalam persiapan ruhiyah ini banyak hal yang dapat dilakukan sebagai santapan rohani yang bermanfaat seperti:

  • Dzikrullah dan Tilawatil Qur’an. Dengan dzikrullah, seseorang akan bertambah cinta dan taqwa kepada Allah dan Allah pun ingat kepadanya sesuai firman Allah SWT: “Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu”. (QS. Al-Baqarah: 152)
  • Menghafalkan Al-Qur’an
  • Memperbanyak Istighfar
  • Memperbanyak Doa
  • Memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah saw.
  • Qiyamullail
  • Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah
  • Membiasakan hal-hal yang baik.

Jika seorang ingin anaknya rajin bersedekah, maka biasakanlah untuk sering bersedekah karena anak biasanya membutuhkan contoh dari orang tuanya. Jika kita ingin anak kita tidak berdusta, maka janganlah kita contohkan berkata dusta. Jika kita ingin anak kita menghormati kita sebagai orang tuanya, maka hormatilah kedua orang tua kita. Jika kita ingin anak kita tidak berkata dan berbuat kasar, maka berhati-hatilah dalam berbicara karena anak akan merekam dan meniru apa yang diucapkan orang tua atau lingkungannya.

Persiapan Aqliah

“Buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan ke dapur-dapur juga..” Ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai pernyataan tidak pentingnya kaum wanita menuntut ilmu. Pada sebagai sebuah sekolah bagi anak-anaknya, ibu yang berpendidikan lebih dibutuhkan. Seorang ibu yang pintar dapat berfikir kreatif bagaimana cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Setidaknya seorang ibu yang mencintai pendidikan akan selalu mementingkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Untuk menjadi seorang ibu yang pintar tidak harus selalu mendapatkan pengetahuan dari bangku sekolah atau kuliah. Cara yang paling efektif dalam mengembangkan wawasan seorang wanita ialah dengan banyak membaca. Kini sudah banyak tersedia buku-buku tentang metode pendidikan anak secara islami yang menerangkan apa saja hak-hak anak, mendidik anak sesuai tahap perkembangannya, dan tentang kesalahan cara pendidikan anak dan solusinya. Bahkan kini sudah banyak beredar buku yang membicarakan cara-cara mendidik anak sejak dalam kandungan. Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk dapat mengobati atau memberikan pertolongan pertama pada anak kita yang sakit. Kini sudah banyak buku-buku yang menerangkan tentang makanan apa saja yang bermanfaat bagi perkembangan tubuh dan otak anak, obat-obatan tradisional, cara menangani pertolongan pertama pada anak, dan lain-lain. Selain membaca, banyak sarana lain yang dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan seperti mengikuti berbagai seminar, ceramah, atau diskusi yang membahas tentang pendidikan anak.

Persiapan Jasmaniah

Kekuatan fisik merupakan hal yang patut diperhatikan oleh seorang calon ibu. Seorang wanita membutuhkan ketahanan fisik untuk menghadapi masa-masa kehamilan dan menyusui. Bagaimana calon ibu dapat mempertahankan kesehatan janin bila ia sudah direpotkan dengan berbagai penyakit karena akibat tidak bisa menjaga kesehatan. Masa kehamilan adalah masa-masa yang membutuhkan kesehatan fisik wanita secara prima. Allah SWT menggambarkan kelemahan seorang ibu ketika masa kehamilan dalam ayat berikut ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Untuk itu seorang muslimah diharuskan menjaga kesehatannya sedini mungkin. Berikut ini ada beberapa kiat sehat ala Rasulullah saw:

  • Selalu bangun sebelum Shubuh. Selain untuk mendapatkan kesegaran udara, bangun sebelum shubuh juga memberikan hikmah berupa berlimpahnya pahala dari Allah dan untuk memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.
  • Aktif Menjaga Kebersihan * Tidak Pernah Banyak Makan
  • Gemar Berjalan Kaki * Tidak Pemarah
  • Optimis dan Tidak Putus Asa * Tak Pernah Iri Hati

Demikianlah persiapan-persiapan dasar yang harus dilakukan seorang wanita sebagai calon ibu pencetak generasi qur’ani yang akan membangun suatu bangsa. Mudah-mudahan kita semakin siap memikul tugas keibuan yang berat tapi mulia ini sehingga kita menjadi ibu yang didambakan oleh umat. Amin

Sumber Bacaan:

  • Bukan Sembarang Ibu, Muhammad Hassan, Bina Mitra Press 1997
  • Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim, Khairiyah Husain Taha Shabir, MA., CV. Firdaus, 2001
  • Pembersih Jiwa, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Penerjemah: Nabhani Idris. Pustaka, 1996

(al-dahwah.org)

none

Bagi sebagian besar pada jomblo yang belum nikah, tentunya ada bermacam-macam harapan tentang calon pendamping hidupnya. Mulai dari yang mengedepankan aspek fisik, entah itu tampan ataupun cantik, dan itu sangatlah manusiawi. Ada juga yang lebih menitik beratkan pada kekayaan yang dimiliki calon pendamping. Atau kadang masih ada juga yang sangat memperhatikan status sosial. Tetapi, agama kita lebih menuntun kita untuk memilih pasangan berdasarkan agamanya.

Dari berbagai perbedaan fokus penilaian di atas, tentunya mesti disesuaikan dengan kondisi kita sendiri, atau dengan kata lain sekufu. Seringkali kita dihadapkan pada kondisi dimana naluri bertentangan dengan kondisi kita. Lalu apa yang mesti dikedepankan??

Apabila kita dihadapkan pada kondisi seperti itu, kita bisa saja pilih yang mana saja. Kalau pilihan jatuh pada opsi pertama (naluri/cinta/kecenderungan), sering kali kita akan disebut pejuang cinta. Mereka sering berargumen bahwa cinta mengalahkan segalanya. Atau juga penjelasan bahwa cinta menerima apa adanya. Mungkin ada benarnya juga, tatkala kondisi kita tidak semata-mata mengedepankan syahwat.

Pilihan lain yang bisa kita pilih adalah mempertimbangkan kondisi kita sendiri. Untuk model seperti ini, biasanya disebut idealis. Padahal, baik pemilih pertama maupun kedua tentunya sama-sama menginginkan yang ideal. Tapi, kenapa pemilih yang kedua yang disebut seperti itu?? Atau dengan pendapat lain yang mengatakan bahwa pemilih model ini termasuk katageri pemilih berkriteria tinggi. Pernahkah kita berpikir tentang kondisi orang yang bersangkutan?? Misalnya saja ketika seseorang berharap mempunyai istri yang pandai memasak, dimana kondisi ekonomi si pria kurang. Diharapkan dengan pandainya istri memasak bisa sedikit “irit” dalam hal pengeluaran. Atau ketika ada seseorang mengharap istrinya tidak bekerja, bisa jadi si pria mengharap agar generasi penerusnya lebih baik karena bimbingan langsung dari si ibu.

Kalau kita kembali kepada tuntunan agama kita, tentunya kita akan mengedepankan masalah agama. Tapi seringkali masalah agama juga dilihat hanya sebelah mata. Bagi mereka yang alergi terhadap agamanya (aneh memang, kenapa dipilih tapi alergi, tanya kenapa??), tentunya masalah agama gak masuk hitungan (kecuali persepsi ideal itu sendiri). Bagi mereka yang biasa disebut aktifis dakwah, secara kasat mata memang terlihat mengedepan faktor agama. Walaupun kalau kita mau telaah secara seksama, kebanyakan dari mereka hanyalah berkutat seputar teoritis semata. Banyak yang secara dakwah (klo bisa dikatakan dakwah), secara teori apalagi praktek dalam pernikahan masih sangatlah prematur.

Diantara mereka yang sering berkecimpung dalam dunia yang mereka anggap dakwah, mereka cenderung kurang memperhatikan dakwah terhadap keluarga sendiri. Padahal penjelasan dalam surat at-Tahrim ayat 6, dimana penekanannya terhadap keluarga dulu. Tapi mereka yang berlabel aktifispun gak ngerti kewajiban mengurus keluarga dengan sunnahnya dakwah di luar. Keluarga “terlantar” dengan alasan dakwah. Dakwah apa yg keluarganya gak keurus?? Apakah Rasul seperti itu?? Dan ini bukan berarti egois. Atau juga yang kurang paham dengan anggapan istri bekerja membantu suami, suami ridlo istrinya bekerja diluar tanpa hijjab yang nyata. Dimana setelah melahirkan, cuman dikasih waktu 3 bulan buat ngurus anak. Ayam aja ngurus anaknya sampe anaknya bisa nyari makan sendiri, koq manusia bisa gitu ya??

Ya, jaman emang sudah aneh, bentar lagi mo kiamat, definisi dakwah makin gak jelas, sampe2 demostrasi aja dianggap dakwah. Ketika ada seseorang yg mencoba mengedepankan keluarga, dianggap gak realistis, terutama karena alasan ekonomis. Semoga kita senantiasa ditunjukkan dan dibersihkan hati oleh Allah ke jalan yang lurus dan benar.

Uneg2 pagi depan kompie

none

Dibalik “Topeng” Muslimah

Akhir2 ini, terkadang kita merasa bangga dengan kondisi saat ini. Banyak sekali muslimah yg makin sadar (setidaknya terkesan sadar) memakai jilbab (atau apa ya namanya??). Hampir di berbagai tempat kita jumpai, wanita2 muslimah pada pake jilbab, entah itu di Mall, Kampus, Pasar, tempat kerja, dll. Semua itu, sedikitnya memberikan sebuah harapan yg besar.

Di sisi lain, pemakaiannya koq tidak diimbangi dengan pengetahuan yg cukup tentang menjaga hijab, dalam hal ini tau konsekuesinya. Tentunya, lebih baik lagi klo ditambah pengetahuan yg cukup tentang agama. Misalnya, tau tentang hukum bersentuhan tangan, ikhtilat, dsb. Tapi, kenyataan di lapangan, koq beda jauh banget. Sampe2 saya sendiri gak bisa langsung respect sama yg pake jilbab, harus lihat2 dulu gitu.
Tidak sedikit yg pake jilbab tapi pacaran, atau bahkan nginep di tempat cowoknya. Dalam hatipun bergumam : “Wah, ada kebo pake kerudung neeh”. Aneh. Saya koq jadi merasa aneh yah, apa mereka gak ngerti, bego, atau gimana?? Klo bodoh, ya sadar diri lah, belajar gitu, wong saya aja masih bodoh koq. Dan anehnya lagi, pandangan kebanyakan kita menganggap bahwa klo udah pake jilbab, langsung dibilang sholehah lah, atau apapun namanya.

Suatu ketika saya ketemu temen2 saya, kebetulan baru beberapa hari setelah lebaran.
Biasalah, kebiasaan di kita khan baru pada minta maaf setelah lebaran. Tak sedikit dari mereka yg pada bawa ceweknya yg pake topeng (baca kerudung). Dan tambah aneh lagi, cewek2 di sana yg pada pake topeng tsb langsung ngajak salaman. Saya hanya angkat tangan di depan dada aja deh. Saya hanya berpikir, mungkin mereka blom paham. Tapi anehnya, koq tiap tahun sama aja yah?? Gitu2 juga?? Bodoh koq dipelihara. Malu2in banget.

Dari kejadian tsb, saya koq kadang jadi berburuk sangka. Jangan2 mereka pake topeng hanya karena gak bisa dandan, atau kurang gaul aja. Biar bagaimanapun juga, gini2 juga pernah gaul gitu lho .., hehe. Dan emang kebanyakan ya emang gitu, yg pada pake topeng hanya karena gak bisa dandan, atau gak biasa gaul biasanya. Karena pas saya ajak diskusi masalah gaul dan tempat2 gaul, pada gak tau tuh …

Lantas, apa kita mesti diam saja?? Terus terang, saya blom bisa nasehatin orang, wong saya sendiri masih banyak yg perlu diberesin. Mungkin, saya hanya bisa berdoa, semoga mereka tambah paham aja deh. Mungkin juga, ada rekan2 yg sanggup, ya silahkan, saya support dengan doa aja deh, maklum imannya masih sangat sangat lemah.

Ada baiknya, kaum wanita merenungi ayat di bawah ini :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur, 24:31)

Mudah2an Allah senantiasa menunjukkan jalan-Nya kepada kita semua selaku hamba-Nya. Amin.

none

Poligami jelas sekali kehalalannya secara syar’i. Banyak dalil al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Sehingga sangatlah heran klo ada beberapa orang yang secara terang2an percaya ayat tsb tapi masih nolak. Tanya kenapa???

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisaa, 4:3)

Dalil tersebut menjelaskan bahwasanya klo laki2 justru lebih dianjurkan Poligami.
Karena, jelas sekali bahwa ayat tsb menyebutkan dua, tiga, atau empat. Nah, baru kemudian klo takut tidak adil, pilihlah satu. Jadi, pilihan satu itu adalah alternatif terakhir. Coba kita bayangkan, bagaimana bisa dikatakan adil, wong tidak ada pembandingnya. Misalnya gini deh, seorang terdakwa biasanya melakukan pembelaan terhadap tuntutan jaksa. Hakim baru akan mempertimbangkan klo ada bukti atau saksi. Artinya, perlu referensi lain sebagai pembanding. Atau gini deh, klo misalnya kita jadi anak tunggal, apa kita yakin akan keadilan orang tua kita? Wong wajar koq dia sayang, karena emang kita anak satu2nya. Tapi coba deh, klo saudara kita banyak, tapi orang tua sayang sama semuanya, atau setidaknya berusaha menyayangi semuanya, tentunya bisa dikatakan adil.

Jadi, adil itu akan tampak tatkala kita dihadapkan pada dua atau lebih obyek/kondisi, dimana kita memperlakukan obyek atau melakukan hal secara proporsional pada kedua atau lebih kondisi tersebut. Iya gak??

Kemudian klo kita coba simak salah satu rokok, dimana katanya (menurut pecandu rokok), klo rokok 234 itu enak lho, dan harganya mahal. Mungkin itu juga menunjukkan klo 2, 3, atau 4 itu enak dan menyenangkan, hehe. Jangan salah sangka dulu, karena parameternya bukan hanya seks semata lho …

Ada contoh kasus begini, dimana pada jaman dahulu (jaman engkong elo pade), M Natsir sama Sukarno berdebat tentang Poligami. M Natsir pro sama poligami, sedangkan Sukarno kontra sama Poligami. Sejarah mencatatnya gimana? Sapa yg istrinya banyak?? Klo udah gitu, termasuk orang apa tuh?? (Jawab sendiri aja lah …)

Emang seeh, dari pihak wanita biasanya yg lebih sensitif. Saya juga ngerti itu, wong ibu saya juga wanita, saya juga punya adik wanita. Toh, klo parameter kita bukan nafsu, tentunya tidak akan ada penolakan. Jadi, pada hakekatnya, yg nolak juga bisa dikatakan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Tapi masalah itu, silahkan aja deh, wong masing2 dari ktia yg bakal dimintai pertanggung jawabannya koq, gitu aja repot.

So, 234 bukanlah Dji-Sam-Soe (Hidji sampe soentuk), abis itu cari lagi setelah cerai, mirip artis. Amit2 deh …

none

Akhlaq & Aqidah Istri Idaman

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel yang berjudul “Istri Idaman Karir Wanita Mulia “. Pada pembahasan kali ini akan dipaparkan sedikit mengenai akhlaq bagi seorang Istri dari kalangan kaum muslimin yang mencari kemulian sejati. Semoga kaum muslimah yang membaca artikel ini tersentuh nuraninya dan memperoleh jalan hidayah mana kala selama ini telah terjatuh dalam jurang kenistaan dan jebakan-jebakan musuh Islam.

Seorang isteri idaman harus memahami arti pentingnya aqidah islamiyah yang shahihah, karena sah tidaknya suatu amal tergantung kepada benar dan tidaknya aqidah seseorang. Isteri idaman adalah sosok yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu agama sehingga dia dapat mengetahui ilmu-ilmu syar’i baik yang berhubungan dengan aqidah, akhlak maupun dalam hal muamalah sebagaimana semangatnya para shahabiyah dalam menuntut ilmu agama Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan kebodohan mereka dan beribadah kepada Allah di atas cahaya ilmu.

Sebagaimana riwayat dibawah ini:
Dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Pernah suatu kali para wanita berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami, Nabi pun menjanjikan satu hari dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberi nasehat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, kecuali mereka sebagai penghalang baginya dari api nereka. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab: “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari No 1010)

Seorang isteri yang aqidahnya benar akan tercermin dalam tingkah lakunya
misalnya:

  • Dia hanya bersahabat dengan wanita yang baik.
  • Selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.
  • Bisa menjadi contoh bagi wanita lainnya.

Akhlak Isteri Idaman.

  • Berusaha berpegang teguh kepada akhlak-akhlak Islami yaitu: Ceria, pemalu, sabar, lembut tutur katanya dan selalu jujur.
  • Tidak banyak bicara, tidak suka merusak wanita lain, tidak suka ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).
  • Selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan isteri suaminya yang lain (madunya) jika suaminya mempunyai isteri lebih dari satu.
  • Tidak menceritakan rahasia rumah tangga, diantaranya adalah hubungan suami isteri ataupun percekcokan dalam rumah tangga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukan-nya disisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya dan isteri mencumbui suaminya kemudian ia sebar luaskan rahasianya.” (HR. Muslim, 4/157)

Isteri idaman di rumah suaminya

  • Membantu suaminya dalam kebaikan. Merupakan kebaikan bagi seorang isteri bila mampu mendorong suaminya untuk berbuat baik, misalnya mendo-rong suaminya agar selalu ihsan dan berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.” (Al Ahqaf 15)
  • Membantunya dalam menjalin hubungan baik dengan saudara-saudaranya.
  • Membantunya dalam ketaatan.
  • Berdedikasi (semangat hidup) yang tinggi.
  • Ekonomis dan pandai mengatur rumah tangga.
  • Bagus didalam mendidik anak.
  • Penampilan: Di dalam rumah, seorang isteri yang shalehah harus selalu memperhatikan penampilannya di rumah suaminya lebih-lebih jika suaminya berada di sisinya maka Islam sangat menganjurkan untuk berhias dengan hal-hal yang mubah sehingga menyenangkan hati suaminya. Jika keluar rumah, seorang isteri yang sholehah harus memperhati-kan hal-hal berikut: Harus minta izin suami, Harus menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasannya, Tidak memakai wangi-wangian, Tidak banyak keluar kecuali untuk tujuan syar’i atau keperluan yang sangat mendesak.
none