Saya sering denger dimana orang2 berbicara bahwa segala sesuatu dilihat menurut situasi dan kondisi. Dalam hal ini bisa benar dan bisa juga salah. Bisa benar klo memang kondisi yg dimaksud bener2 terjadi. Salah apabila hanya akal2an karena hendak mengikuti hawa nafsu semata.

Ada juga yg mengatakan bahwa sebagai laki2, hendaknya bisa mendidik istrinya. Sehingga klo ada calon yg menurut agama kurang, tentunya tidak masalah karena toh laki2 yg wajib mendidik. Tapi dari sekian tanggapan yg bernada seperti ini, justru sampe saat ini istrinyapun masih gitu2 aja. Gak tau masalah hijjablah, gak ngerti urusan rumah tangga, dll. Padahal di sisi lain, orang ybs menyarankan masalah “pentingnya mendidik istri” bagi suami.

Atau mungkin ada fenomena lain dimana kita cukup berpegang teguh selama dasar hukum tersebut shahih. Mungkin benar, tapi bisa juga salah. Bisa benar klo kondisi yg dimaksud adalah kondisi normal pada saat hukum tsb berlaku. Akan salah klo kondisinya hanyalah terjadi pada saat2 tertentu.

Dari semua itu, pendapat ummat yg awam justru biasanya hanya didasarkan pada kenyataan bahwa hal tsb banyak pelakunya. Artinya, lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas.

So, bagaimana mungkin Islam bisa tegak klo kita cuman bisa jadi Minimalis??? Ingatlah bahwa yg dinilai Allah adalah kualitas, bukan kuantitas. Wallahu’alam

423 com

Klo kita jalan2 ke mall, banyak kita jumpai cewek2 pake pakaian super ketat. Tapi, sebenarnya seeh gak perlu ke mall, wong di sekitar kita juga sering menjumpainya koq. Dan usianya pun beragam, mulai dari yg masih sekolah, kuliah, sampe yg tante2 juga pake yg sama. Nyamankah?? Belum tentu, klo modis, kayaknya seeh mereka bakal kompak menjawab, “Tentu donk”. Tapi benarkah??

Klo kita mau sedikit melakukan penelitian kecil2an, terutama yg menyangkut masalah kenyamanan, kita sering lihat koq. Tidak sedikit bahwa mereka yg pake pakaian super ketat itu justru sering merasa tidak nyaman, terlebih klo di dekatnya ada cowok. Misalnya klo mereka mo naik or turun angkot, pasti tangannya narik kaosnya yg super ketat itu. Atau klo pake rok yg kurang bahan, pasti dia bakal pake tangan atau bukunya buat nutupin. Bisa juga klo belahan lehernya terlalu bawah, pake buku juga buat nutupin. Lantas biasanya saya berpikir, “Apa mereka semua itu munafik??”

Kenapa saya katakan munafik?? Karena di satu sisi mereka kayaknya ngikutin banget trend yg berkembang sekarang, terutama di dunia barat sono.Tapi di sisi lain, mereka tidak sepenuhnya siap mengumbar tubuhnya untuk dinikmati orang lain.

Mungkin bagi cowok, mau diakui atau tidak, yg jelas senang melihat pemandangan seperti itu. Cuman biasanya ada tiga sikap yg bakal dilakukan itu cowok. Pertama, mereka langsung memalingkan muka, terlebih klo sudah paham dan sadar betul tentang agama. Kedua, biasanya tipe yg malu2 kucing. Model gini biasanya curi2 pandang klo ada sedikit pemandangan. Nah, klo yg ketiga ya langsung pelototin aja.

Terlepas dari perbedaan tsb, adalah fitrah bagi laki2 senang melihat yg model gituan. Tapi anehnya, terkesan pameran tapi gak mau dilihat?? Sungguh benar2 munafik.

Ya, kita semua akui klo di jaman yg super edan kayak gini, makin banyak godaan bagi laki2. Klopun si cowok itu sadar, dan berusaha memalingkan muka, eh di arah memalingkan mukapun biasanya ketemu hal serupa. Sungguh berat sekali godaannya. Karena itu, sadarlah wahai wanita, bahwa sesungguhnya engkau adalah menarik, karena itu lindungilah sehingga kau bener2 bagai mutiara yg berharga. Jangan asal ngikutin mode, alih2 modis, justru yg terlihat adalah kesan nudis.

none

Anak muda jaman sekarang (sebenarnya, masih muda juga koq ) pasti sudah pada kenal dan mungkin sudah pada praktek pacaran. (Wong aku juga pernah koq ). Dan tidak sedikit pula, anak SD pun, sudah mengenal dan mempraktekan hal yg satu ini. Gak tau dari mana mereka tau, cuman kayaknya seeh dari tv. Karena klo kita mau melihat umur, tentunya anak sekecil itu gak semestinya udah tau.

Oke, mungkin tadi cuman prolog. Mari kita coba ulas lebih lanjut. Dan ternyata, klo kita melakukan pacaran, bisa jadi dua2nya rugi, cuman yg paling rugi ya wanita. Oke lah, kita jangan langsung bilang “dosa”, karena sudah barang tentu kita semua sudah tau, cuman biasanya bikin kebanyakan kuping pada panas, klo mendengar kata tsb. Dan emang, sebenarnya diluar “dosa” itu sendiri, masih tersimpan banyak kerugian. Klo dari sisi cowok, tentunya pada saat2 awal penjajakan (alias dalam masa penyergapan ), tentunya banyak keluar modal khan?? Padahal, klo modal itu mau kita alokasikan ke hal2 yg lebih produktif, wah banyak tuh untungnya. Cuman, klo dialokasikan untuk pacaran, mestinya seorang cowok berani ngomong gini (minimal dalam hari), “Siapa lo, istri bukan, saudara bukan, eh banyak mintanya lo”. Cuman mungkin, kebanyakan dari kita mikirnya gini, “Skrg gw keluar modal, nanti lo gw yg balik minta jatah” (Ups! ).

Klo pikiran pertama yg keluar, berarti pikirannya masih sehat dan gak ngeres (klo kotor mah disapu aje ye …). Tapi, klo pikiran kedua yg muncul, disinilah salah satu kerugian yg menimpa cewek. Suatu saat nanti, bisa saja klo si cewek sudah terperangkap (dan klo seorang cewek bener2 mencintai cowoknya, biasanya seeh si cowok sudah punya kartu As <bukan Jempol > ), ya si cowok tinggal narik setoran, wong DP-nya udah duluan koq. Klo si cowok masih rada2 alim seeh, mungkin paling banter cuman pegang2 doank. Tapi ada juga tipe2 malpinas, dimana tampangnya doank yg alim, aksinya busyetttttttt. Apalgi, klo si cowok bener2 agresif dan tipe yg gak mau tau, udah deh. Klo ngapel, sambil bawa balon. Dan yg model gini, sudah bukan dianggap tabu lagi. Apalagi di Jakarta udah ada ATMnya.

Oke, kita lupakan hal tsb sejenak. Biasanya, alasan mereka dalam berpacaran adalah sebagai penjajakan. Masa iya seeh penjajakan? Masa penjajakan gak kenal batas waktu?? Klopun ada jatuh temponya, biasanya klo udah ngerasa bosen. Dan lagi2 korbannya adalah wanita. Karena wanita akan dianggap tidak lebih dari barang dagangan, yg bisa kapan aja dicoba sampe bosen. Klo bener2 penjajakan mah, wong masa percobaan karyawan aja biasanya cuman 3 bulan. Ya, artinya gak selama praktek yg sekarang terjadi. Namanya juga penjajakan, ya buat mengenal doank, dan itupun untuk hal2 yg umum2nya. Lagian, gak jamin juga, klo orang pacarannya lama, lantas nikahnya langgeng.

Nah, dari situ sedikit terkuak deh tujuan dari pacaran, yaitu penjajahan. Penjajahannya bisa dari kedua pihak. Klo dari cewek, ya biar bisa morotin si cowok iinocent. Klo dari sisi cowok, tentunya bisa dikatakan ’suatu bentuk penguasaan’ (weleh2, kayak bahasa hukum ). Coba klo menikah, bisa dimasukkan kategori KDRT, cuman berhubung blom menikah ya gak bisa dituntut atuh. Lagian gak ada pengadilannya koq, wong suka sama suka. Karena itu, cobalah berpikir sehat (jangan kotor bin ngeres ), harus lihat ke depan. Jangan sampe, kita terjebak pacaran hanya untuk tujuan2 diatas. Atau klopun tidak, karena gak mau disebut gak gaul. Emang apa untungnya jadi anak gaul?? (Dulu gw malah jadi bokek, gara2nya gak tajir, selera tinggi ). So, buat para cowok, jangan salah gunakan kekuasaan. Klo buat cewek, ya jangan salah gunakan kepuasan (eh, maksudnya pemuasan ).

Sebuah coretan menunggu maghrib dan hujan

none

Poligami jelas sekali kehalalannya secara syar’i. Banyak dalil al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Sehingga sangatlah heran klo ada beberapa orang yang secara terang2an percaya ayat tsb tapi masih nolak. Tanya kenapa???

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisaa, 4:3)

Dalil tersebut menjelaskan bahwasanya klo laki2 justru lebih dianjurkan Poligami.
Karena, jelas sekali bahwa ayat tsb menyebutkan dua, tiga, atau empat. Nah, baru kemudian klo takut tidak adil, pilihlah satu. Jadi, pilihan satu itu adalah alternatif terakhir. Coba kita bayangkan, bagaimana bisa dikatakan adil, wong tidak ada pembandingnya. Misalnya gini deh, seorang terdakwa biasanya melakukan pembelaan terhadap tuntutan jaksa. Hakim baru akan mempertimbangkan klo ada bukti atau saksi. Artinya, perlu referensi lain sebagai pembanding. Atau gini deh, klo misalnya kita jadi anak tunggal, apa kita yakin akan keadilan orang tua kita? Wong wajar koq dia sayang, karena emang kita anak satu2nya. Tapi coba deh, klo saudara kita banyak, tapi orang tua sayang sama semuanya, atau setidaknya berusaha menyayangi semuanya, tentunya bisa dikatakan adil.

Jadi, adil itu akan tampak tatkala kita dihadapkan pada dua atau lebih obyek/kondisi, dimana kita memperlakukan obyek atau melakukan hal secara proporsional pada kedua atau lebih kondisi tersebut. Iya gak??

Kemudian klo kita coba simak salah satu rokok, dimana katanya (menurut pecandu rokok), klo rokok 234 itu enak lho, dan harganya mahal. Mungkin itu juga menunjukkan klo 2, 3, atau 4 itu enak dan menyenangkan, hehe. Jangan salah sangka dulu, karena parameternya bukan hanya seks semata lho …

Ada contoh kasus begini, dimana pada jaman dahulu (jaman engkong elo pade), M Natsir sama Sukarno berdebat tentang Poligami. M Natsir pro sama poligami, sedangkan Sukarno kontra sama Poligami. Sejarah mencatatnya gimana? Sapa yg istrinya banyak?? Klo udah gitu, termasuk orang apa tuh?? (Jawab sendiri aja lah …)

Emang seeh, dari pihak wanita biasanya yg lebih sensitif. Saya juga ngerti itu, wong ibu saya juga wanita, saya juga punya adik wanita. Toh, klo parameter kita bukan nafsu, tentunya tidak akan ada penolakan. Jadi, pada hakekatnya, yg nolak juga bisa dikatakan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Tapi masalah itu, silahkan aja deh, wong masing2 dari ktia yg bakal dimintai pertanggung jawabannya koq, gitu aja repot.

So, 234 bukanlah Dji-Sam-Soe (Hidji sampe soentuk), abis itu cari lagi setelah cerai, mirip artis. Amit2 deh …

none