MediaMuslim.Info - Tidak sedikit perempuan kita suka berkelit, menghindari peran dan kewajiban dasar yang dianggapnya sebagai masalah yang melilit. Yang gadis ingin selalu bebas dinamis, buntutnya malas untuk menjadi seorang istri. Giliran jadi istripun tak berhenti bikin sensasi, phobi untuk punya anak. Kalaupun terpaksa punya, cukup terpeleset sekali saja, katanya. Pun tidak mau memberikan ASInya, padahal bagi anak itulah yang paling baik dan enak.

Fenomena itu kini menyeruak di masyarakat bumi, tidak ketinggalan yang disebut nusantara ini. Dalam kehidupan dunia yang semakin global, perang tidak sekedar dengan rudal apalagi dengan pedang. Lewat media massa penjajahan tidak lagi kasat mata. Penjajah yang dijajah bisa satu asa dan satu rasa, sama-sama bangga. Penjajahan budaya, mengalir bersama kucuran dana. Feminisme, salah satu namanya.

Feminisme dijual dengan kemasan perjuangan perempuan, pembebasan wanita. Muncullah jargon  keseteraan jender. Perempuan dan laki-laki tidak beda sama sekali, kecuali pada fungsi reproduksi. Dianggap wajar bila menolak menggunakan hak reproduksinya. Bayangkan jika dianut semua wanita negeri ini, bisa-bisa tingkat kelahiran bayi di negara ini bisa dihitung dengan jari. Mereka membuat opini, seorang wanita yang rela sekedar jadi ibu rumah tangga berarti tidak punya harga. “Karena mau ditindas melakukan pekerjaan hina,“ suara kaum feminis membahana. Mereka seolah telah berjuang untuk wanita, peduli akan nasib golongan putri. Sehingga tak pelak lagi anak remaja kini termakan opini tadi. Ini yang mesti kita para keluarga muslim hadapi dengan bijaksana dan hati-hati.

Tidak bisa dipungkiri laki-laki dan wanita memang berbeda, ini sunnah ketetapan Sang Pencipta. Sempatkah kita memperhatikan jenis burung yang beraneka. Kakaktua paruhnya melengkung, karena makanannya biji-bijian, bukan kangkung. Si pelikan berkantung besar di bawah paruhnya untuk menyimpan ikan sebagai persediaan makanannya. Sang bangau berparuh amat panjang demi membantunnya memangsa ikan dalam air tanpa tenggelam. Subhanallah!

Begitu juga manusia, sejak berupa benih pun punya ciri yang tidak sama. Semakin dewasa kian banyak perbedaannya, tanpa dapat decegah dan dihindari. Otot laki-laki berkembang lebih kuat, organnya pun lebih berat. Bayi perempuan tumbuh dengan organ khas kewanitaan.

Tidak ada artinyakah perbedaan-perbedaan itu? Semua itu bukti adanya perbedaan esensial perempuan dan laki-laki. Dengan teliti dan sangat sempurna, Alloh Subhanahu wa Ta’ala rancang bentuk fisik sesuai dengan tugas masing-masing di sepanjang kehidupannya. Jujur harus diakui, perbedaan peran, tugas serta spesifikasi antara dua jenis kelamin manusia sudah dibawa secara fitrah sejak lahir. Sungguh tidak masuk akal (bagi akal yang sehat dan logis) jika ada yang berkata tak ada pembagian tugas baku antara keduanya, seperti pendapat kaum feminis.

Pembagian peran dan tanggung jawab sosial membawa implikasi pada perbedaan dalam berbagi bidang lain yang terkait dengan kehidupan rumah tangga. Ini yang diperangi para feminis. Berarti feminisme melanggar sunnatullah. Apapun kalau melanggar sunnatullah pasti berakibat pada pergeseran keseimbangan. Timpanglah kehidupan rumah tangga, kehidupan bermasyarakat dan seterusnya. Akhirnya timbul kekacauan.

Marilah disadari, kita –wanita dan pria- memang punya hak sebagai individu. Tapi ada yang tidak boleh dilupa, kita hidup di dunia ini punya misi. Kalau Alloh Subhanahu wa Ta’ala tetapkan laki-laki sebagai begitu juga wanita punya misi sesuai kodratnya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala pencipta kita, tentu Dia tahu apa yang terbaik bagi kita.

Pejuang di jalan-Nya akan selalu berhadapan dengan pejuang angkara murka. Marilah kita waspada, jangan jadikan keluarga kita korban feminisme radikal! Wallahu a’lam Bishshowab.

none

Dalam berbagai kesempatan, kita bisa jumpai bahwa rata2 wanita bersuami di jaman sekarang lebih memilih berkarir. Dalam benak sebagian besar orang, bahwa berkarir adalah sebuah pilihan mulia dari seorang wanita karena tidak hanya terlibat dalam urusan rumah tangga, tapi juga bisa mengabdikan diri di masyarakat. Imej yg muncul adalah bahwa wanita karir itu lebih cerdas, bisa memakai rasio, hebat, modern, dan yg pasti tidak membosankan. Dan entah dari mana pandangan seperti ini muncul di kepala sebagian besar pencetak generasi.

Di sisi lain, imej ibu rumah tangga terkadang hanya dilirik sebelah mata, itupun terkadang sambil memicingkan mata. Ibu rumah tangga tidak lagi dianggap profesi, terlebih dianggap profesi mulia. Dia hanyalah dianggap sebatas profesi murahan. Wanita seperti ini biasa dianggap tidak cerdas, terlalu lemah, hanya bisa dipermainkan laki2, atau seabreg pandangan negatif lainnya.

Padahal, klo kita mau teliti lebih lanjut, seorang istri yg berperan sebagai ibu rumah tangga adalah wanita super hebat. Bagaimana tidak, wanita jenis ini bisa memadukan antara akal, otot, sekaligus perasaan. Tak seorangpun akan bilang klo memasak sama mencuci itu gampang. Atau juga mengatur keuangan yg hanya bersumber dari suami itu masalah sepele. Dan juga semuanya akan sepakat klo bersabar di saat anak2 rewel adalah pekerjaan yg teramat sulit. Tapi, apakah dibalik semua itu adalah bentuk dari sikap kesewenang2an laki2?? Terlebih klo ada yg menganggap bahwa itu sebagai bentuk penindasan terhadap wanita. Sungguh sangkaan yg keliru.

Dari sudut pandang Islam, seorang ibu adalah sosok yg paling berhak memelihara anak. Tentunya beban ini tidak asal begitu saja Allah sematkan di tangan para ibu. Allah senantiasa tau betul akan ciptaan-Nya, dimana emang wanitalah yg paling pantas memelihara dan mendidik anak berdasarkan faktor perasaan dan kasih sayang yg dominan dalam diri kaum hawa ini. Sebagai mana firman-Nya dalam surat Al-Qashash ayat 10, bahwa :

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (QS Al-Qashash, 10)

Dari ayat tersebut mengindikasikan bahwa setelah Ibunya Musa menghanyutkannya di sungai Nil, timbul penyesalan yg mendalam karena kekhawatirannya akan keselamatan Musa, dan konon ia hampir berteriak minta tolong untuk mengambil anaknya kembali. Tapi dia sadar bahwa hal itu justru akan membuka rahasia bahwa Musa adalah anaknya, yg pada waktu itu ada perintah pembunuhan terhadap setiap bayi laki2.

Atau juga klo kita baca surat Al Baqarah ayat 233, bahwa kaum ibu hendaknya menyusui anaknya selama 2 tahun, sebagai penyempurnaan penyusuan. Tentunya lagi2 peranan ibu sangat penting dalam mencetak generasi unggul. Dan ajaran Islam sudah sesuai fitrah, karena memang Allah Maha Mengetahui.

Belum lagi, klo kita mau menengok peran ibu rumah tangga dalam mengurusi suaminya. Tentunya akan semakin berat pula tanggung jawab perannya itu. Lantas, kenapa masih dianggap bahwa Ibu Rumah Tangga itu pekerjaan sampingan?? Atau bahkan disebut pekerjaan hina, yg hanya dilakukan oleh wanita yg kurang cerdas dan lemah??

Dengan beratnya beban dan tanggung jawab itu, justru wanita karirlah wanita yg sangat lemah. Hanya bisa berfungsi untuk satu fungsi kerja di kantornya. Dan bahkan, biasanya wanita karir lebih nurut sama Bossnya ketimbang suaminya. Karena pikirnya bahwa Boss-lah yg menggaji, sedangkan suami tidak. Padahal, disamping beban berat yg diembang seorang istri, suami juga dibebani mencari nafkah menurut Islam. Jadi klo ada suami yg menyerah dalam mencari nafkah, tidak ubahnya seperti banci. Seorang suami hendaknya bertanggung jawab, karena memang dari segi fisik Allah ‘melebihkannya’, dan ini sudah sesuai fitrah juga.

Nah, dari paparan di atas, masihkan pekerjaan Ibu Rumah Tangga dianggap hina?? Masihkan dianggap pekerjaan sampingan yg membosankan, yg tidak bernilai apa2?? Klo kita berkata tidak demikian, maka seorang istri hendaknya tidak perlu malu, bahkan mesti bangga klo jadi Ibu Rumah Tangga. Dan suamipun gak perlu minder dengan profesi istrinya. Justru dengan begitu, peran pasangan sesuai dengan fungsinya. Dimana pasangan berarti saling melengkapi yg tidak lengkap, bukan saling menggantikan atau bahkan berlomba saling menjatuhkan. Ibaratnya, sepasang sepatu, tentunya adalah satu sepatu kanan dan satunya lagi kiri. Dalam hal ini, tentunya keduanya berbeda bentuk tapi saling melengkapi. So, sungguh hebat seorang istri yg jadi Ibu Rumah Tangga. Dengan seabreg beban yg dibebankan, masih sanggup pula melayani suami dengan senyuman dan kasih sayang. Berbahagialah suami yg memiliki istri seperti itu. Berdoalah!!

(Repost dari blog sebelumnya http://rizts.blog.m3-access.com/posts/21570_Pekerjaan-Hina-Wanita.html)

15 com

Saya sering denger dimana orang2 berbicara bahwa segala sesuatu dilihat menurut situasi dan kondisi. Dalam hal ini bisa benar dan bisa juga salah. Bisa benar klo memang kondisi yg dimaksud bener2 terjadi. Salah apabila hanya akal2an karena hendak mengikuti hawa nafsu semata.

Ada juga yg mengatakan bahwa sebagai laki2, hendaknya bisa mendidik istrinya. Sehingga klo ada calon yg menurut agama kurang, tentunya tidak masalah karena toh laki2 yg wajib mendidik. Tapi dari sekian tanggapan yg bernada seperti ini, justru sampe saat ini istrinyapun masih gitu2 aja. Gak tau masalah hijjablah, gak ngerti urusan rumah tangga, dll. Padahal di sisi lain, orang ybs menyarankan masalah “pentingnya mendidik istri” bagi suami.

Atau mungkin ada fenomena lain dimana kita cukup berpegang teguh selama dasar hukum tersebut shahih. Mungkin benar, tapi bisa juga salah. Bisa benar klo kondisi yg dimaksud adalah kondisi normal pada saat hukum tsb berlaku. Akan salah klo kondisinya hanyalah terjadi pada saat2 tertentu.

Dari semua itu, pendapat ummat yg awam justru biasanya hanya didasarkan pada kenyataan bahwa hal tsb banyak pelakunya. Artinya, lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas.

So, bagaimana mungkin Islam bisa tegak klo kita cuman bisa jadi Minimalis??? Ingatlah bahwa yg dinilai Allah adalah kualitas, bukan kuantitas. Wallahu’alam

398 com

Menurut hasil survey, hasil polling untuk daerah Bandung saja sekitar 10% remaja sudah melakukan seks pranikah. Sekitar 50% dari remaja puteri pelaku seks hamil, dan 90% diantaranya melakukan aborsi. Sungguh angka yang cukup mengerikan.

Data diatas mengindikasikan bahwa skes bebas sudah menjadi hal yang dianggap biasa bagi sebagian remaja. Seks pranikah sudah tidak lagi dianggap tabu. Dengan berbagai alasan tidak ilmiah semacam karena tuntutan jaman, asalkan suka sama suka, dan sebagainya.

Hal lain penyebab semua ini diantaranya adalah televisi. Suka atau tidak suka bahwa televisi berperan besar karena tayangan-tayangan yang tidak mencerminkan budaya ketimuran, apalagi masalah religi. Dan tentunya juga karena kurangnya pendidikan agama. Dimana di jaman sekarang ini, orang tua lebih cemas melihat anaknya belum dapat kerja dibandingkan mendapatkan pendidikan agama yang cukup. Hal ini terus berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Islam, zina adalah perbuatan dosa yang masuk kategori dosa besar. Allah berfirman :

Dan ja-nganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [Q.S. Al-Israa’:32]

Mereka bahkan tidak sadar akan kelanjutan masa depannya. Karena Allah berfirman juga bahwa

Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nuur : 3]

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia (Surga).” [An-Nuur : 26]

Dalam ayat memperlihatkan bahwa hukum Allah benar-benar adil, dimana pasangan kita sebenarnya adalah cerminan dari diri kita sendiri, jikalau kita baik maka insya Allah kita juga akan mendapat pasangan yang baik pula. Namun apabila keduanya telah bertaubat dengan taubat yang nashuha (benar, jujur dan ikhlas) dan masing-masing memperbaiki diri, maka boleh dinikahi. Karena itulah, bila kita sampai terjerumus ke dalam perkara rusak tersebut, maka cepatlah bertaubat kepada Allah. Dan ingat, awas bahaya KTM (Kawin Tanpa Menikah)

none

Siklus Menstruasi

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.

Menstruasi yang pertama kali (disebut menarke) paling sering terjadi pada usia 11 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada usia 8 tahun atau 16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang wanita, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause.

Hari pertama terjadinya perdarahan dihitung sebagai awal setiap siklus menstruasi (hari ke-1). Siklus berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarke dan sesaat sebelum menopause.

Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur. Jarak antar 2 siklus bisa berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan mungkin terjadi 2 siklus. Hal ini adalah normal, setelah beberapa lama siklus akan menjadi lebih teratur. Siklus dan lamanya menstruasi bisa diketahui dengan membuat catatan pada kalender.

Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke-14, terjadi pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telur ini masuk ke dalam salah satu tuba falopii. Di dalam tuba bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan, sel telur akan masuk ke dalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin.

Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, maka endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus menstruasi). Siklus bisa berlangsung selama 3-5 hari, kadang sampai 7 hari. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus berikutnya.

Siklus menstruasi terbagi menjadi 3 fase:

1. Fase Folikuler

Dimulai dari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi pertumbuhan folikel di dalam ovarium. Pada pertengahan fase folikuler, kadar FSH sedikit meningkat sehingga merangsang pertumbuhan sekitar 3-30 folikel yang masing-masing mengandung 1 sel telur. Tetapi hanya 1 folikel yang terus tumbuh, yang lainnya hancur.

Pada suatu siklus, sebagian endometrium dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Endometrium terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling atas dan lapisan tengah dilepaskan, sedangkan lapisan dasarnya tetap dipertahankan dan menghasilkan sel-sel baru untuk kembali membentuk kedua lapisan yang telah dilepaskan. Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3-7 hari, rata-rata selama 5 hari. Darah yang hilang sebanyak 28-283 gram. Darah menstruasi biasanya tidak membeku kecuali jika perdarahannya sangat hebat.

2. Fase Ovulatoir

Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan kadar LH. Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan ovarium, akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya; nyeri ini dikenal sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam.

3. Fase Luteal

Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari. Setelah melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk korpus luteum yang menghasilkan sejumlah besar progesteron.

Progesteron menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat selama fase luteal dan tetap tinggi sampai siklus yang baru dimulai. Peningkatan suhu ini bisa digunakan untuk memperkirakan terjadinya ovulasi.

Setelah 14 hari, korpus luteum akan hancur dan siklus yang baru akan dimulai, kecuali jika terjadi pembuahan. Jika telur dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan HCG (human chorionic gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang menghasilkan progesteron sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri. Tes kehamilan didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.

Menopause

Kata menopause berasal dari dua bahasa Yunani yang berarti “bulan” dan “penghentian sementara”. Berdasarkan definisinya, kata menopause itu berarti masa istirahat. Sebenarnya, secara linguitik, istilah yang lebih tepat adalah menocease yang berarti berhentinya masa menstruasi.

Tubuh seorang perempuan memang dipersiapkan bagi kemungkinan melahirkan anak selama jangka waktu sekitar 35 tahun. Selama itu, sekitar 400 butir telur dilepaskan melalui siklus haid. Proses ini kemudian berhenti tanpa bisa kita hindari.

Menopause juga bukanlah peristiwa yang terjadi secara mendadak. Ia merupakan proses yang berlangsung lama, bahkan pada beberapa orang ia dapat berlangsung selama sepuluh tahun. Artinya, meskipun seorang perempuan mengalami haid yang berhenti sama sekali pada usia 50 tahun, misalnya, ia mungkin sudah merasa bahwa siklus haidnya mulai berubah sejak ia berusia 40 tahun. Menstruasi itu benar-benar tidak datang lagi rata-rata seorang perempuan mencapai umur 50 tahun (dengan rentang antara 48 dan 52 tahun). Secara medis seorang perempuan akan dinyatakan sebagai “telah mengalami menopause” jika selama setahun tidak pernah sama sekali haid lagi.

Penyebab Menopause

Pada masa menopause, hormon diproduksi secara tidak teratur karena sedang terjadi penyesuaian keseimbangan pada kelenjar endokrin. Dalam keadaan seimbang, hormon-hormon tersebut akan bekerja sama secara teratur untuk membantu fungsi tubuh. Dalam keadaan berkurangnya salah satu hormon, hormon lain pada kelenjar ini akan ikut terpengaruh. Ketidak tetapan produksi hormon bisa terjadi bukan saja pada indung telur, tapi juga pada payudara, pituitary, thyroid, dan hypothalamus. Hormon estrogen kemudian mengatur persediaan dirinya hingga mencapai suatu tingkatan yang tetap. Beberapa ahli mengatakan bahwa proses ini bisa berlangsung sampai usia 70-an.

Persediaan hormon progesterone akan menciut pada saat hormon ini tidak lagi melakukan fungsinya. Fungsi tersebut adalah untuk menyediakan tempat di dalam rahim bagi telur yang telah dibuahi, atau untuk menghancurkan dinding uterus sehingga menimbulkan perdarahan pada waktu menstruasi. Jadi, jika kita tidak menstruasi, tubuh kita tidak perlu lagi memproduksi hormon progesterone untuk menghancurkan jaringan di dalam rahim. Pengurangan ini merupakan proses yang terjadi secara perlahan-lahan dan diimbangi dengan kadar estrogen yang terus diproduksi meskipun dalam jumlah yang sedikit. Mengingat bahwa hormon progesterone baru muncul pada pertengahan siklus menstruasi, sebenarnya hormon ini tidaklah sepenting hormon estrogen.

Salah satu hal yang istimewa mengenai tubuh perempuan ialah jika salah satu organ melemah maka organ yang lain akan membantu. Itu pula yang terjadi dengan persediaan estrogen perempuan. Ketika indung telur, yang merupakan bagian tubuh yang berhubungan erat dengan produksi estrogen, kehilangan sel-selnya (sama halnya dengan bagian-bagian lain dari tubuh kita sejalan dengan bertambahnya usia) maka kelenjar-kelenjar adrenalin akan mengambil alih sebagaian produksi.

Hubungannya dengan Pernikahan

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa produksi sel telur pada wanita kurang lebih adalah 400 butir telur. Proses produksi sel telur akan berhenti selama masa kehamilan (sekitar 40 minggu), karena terjadinya proses pembuahan pada sel telur. Dengan asumsi bahwa bahwa menstruasi dimulai pada usia sekitar 11 tahun, ditambah dengan jumlah kelahiran yang banyak pada seorang wanita, secara tidak langsung akan memperpanjang wanita sebelum mengalami masa menopause. Subhanallah.

Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, terutama tentang mahluknya. Karena itulah Allah berfirman :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS An-Nuur, 24:32)

Dari ayat tersebut sangatlah jelas bahwa Allah menganjurkan untuk segera menikah, terlebih bagi wanita. Sebagaimana telah dijelaskan panjang lebar sebelumnya. Karena bagaimanapun juga, pada masa menopause aktifitas sosial agak sedikit terganggu yang mungkin saja bisa mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.

Atau juga berdasarkan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim].

Atau juga dengan hadist bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda :

“Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. [Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban]

Jelas sekali bahwa selain dianjurkan untuk menyegerakan menikah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memiliki banyak keturunan.

Namun sayang seribu sayang, banyak wanita di akhir jaman ini yang sering menunda-nunda menikah hanya dengan alasan yang terkadang tidak ilmiah, seperti hendak melanjutkan kuliah dulu, atau masih ingin mencari jati diri, atau bahkan malah disibukkan dengan karir yang jelas-jelas bukan kewajibannya. Sudah begitu, program pemerintah sekuler yang tiada henti-hentinya menggalakkan pembatasan kelahiran tanpa melihat kondisi, apakah itu darurat atau tidak.

Mudah-mudah kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya agar selalu istiqomah di jalan-Nya, amin. Wallahu’alam

none