Ramadhan di karantina, penuh dengan cobaan dan godaan. Secara di t4 karantina banyak non muslim yg gak shaum. Mudah2an diberi kesabaran dalam menjalankan shaum di bulan Ramadhan taun ini. Sebelumnya pernah juga shaum di tengah2 non muslim, cuman waktu itu cuman 10 hari lah kira2. Nah, Ramadhan taun ini sebulan selama kerja :(. Sabar, sabar ya ……….

4 com

Selamat, anda memasuki masa karantina selama 6 bulan di salah satu bank di Bandung :(

none

Mesti banyak yg perlu diperbaiki dari diri ini. Mencoba belajar menahan emosi, mencoba belajar memahami orang lain, mencoba lagi belajar ilmu syar’i, mencoba dan terus mencoba untuk sesuatu yg lebih baik

Doakan ya …………….!!!

none

Dalam berbagai kesempatan, kita bisa jumpai bahwa rata2 wanita bersuami di jaman sekarang lebih memilih berkarir. Dalam benak sebagian besar orang, bahwa berkarir adalah sebuah pilihan mulia dari seorang wanita karena tidak hanya terlibat dalam urusan rumah tangga, tapi juga bisa mengabdikan diri di masyarakat. Imej yg muncul adalah bahwa wanita karir itu lebih cerdas, bisa memakai rasio, hebat, modern, dan yg pasti tidak membosankan. Dan entah dari mana pandangan seperti ini muncul di kepala sebagian besar pencetak generasi.

Di sisi lain, imej ibu rumah tangga terkadang hanya dilirik sebelah mata, itupun terkadang sambil memicingkan mata. Ibu rumah tangga tidak lagi dianggap profesi, terlebih dianggap profesi mulia. Dia hanyalah dianggap sebatas profesi murahan. Wanita seperti ini biasa dianggap tidak cerdas, terlalu lemah, hanya bisa dipermainkan laki2, atau seabreg pandangan negatif lainnya.

Padahal, klo kita mau teliti lebih lanjut, seorang istri yg berperan sebagai ibu rumah tangga adalah wanita super hebat. Bagaimana tidak, wanita jenis ini bisa memadukan antara akal, otot, sekaligus perasaan. Tak seorangpun akan bilang klo memasak sama mencuci itu gampang. Atau juga mengatur keuangan yg hanya bersumber dari suami itu masalah sepele. Dan juga semuanya akan sepakat klo bersabar di saat anak2 rewel adalah pekerjaan yg teramat sulit. Tapi, apakah dibalik semua itu adalah bentuk dari sikap kesewenang2an laki2?? Terlebih klo ada yg menganggap bahwa itu sebagai bentuk penindasan terhadap wanita. Sungguh sangkaan yg keliru.

Dari sudut pandang Islam, seorang ibu adalah sosok yg paling berhak memelihara anak. Tentunya beban ini tidak asal begitu saja Allah sematkan di tangan para ibu. Allah senantiasa tau betul akan ciptaan-Nya, dimana emang wanitalah yg paling pantas memelihara dan mendidik anak berdasarkan faktor perasaan dan kasih sayang yg dominan dalam diri kaum hawa ini. Sebagai mana firman-Nya dalam surat Al-Qashash ayat 10, bahwa :

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (QS Al-Qashash, 10)

Dari ayat tersebut mengindikasikan bahwa setelah Ibunya Musa menghanyutkannya di sungai Nil, timbul penyesalan yg mendalam karena kekhawatirannya akan keselamatan Musa, dan konon ia hampir berteriak minta tolong untuk mengambil anaknya kembali. Tapi dia sadar bahwa hal itu justru akan membuka rahasia bahwa Musa adalah anaknya, yg pada waktu itu ada perintah pembunuhan terhadap setiap bayi laki2.

Atau juga klo kita baca surat Al Baqarah ayat 233, bahwa kaum ibu hendaknya menyusui anaknya selama 2 tahun, sebagai penyempurnaan penyusuan. Tentunya lagi2 peranan ibu sangat penting dalam mencetak generasi unggul. Dan ajaran Islam sudah sesuai fitrah, karena memang Allah Maha Mengetahui.

Belum lagi, klo kita mau menengok peran ibu rumah tangga dalam mengurusi suaminya. Tentunya akan semakin berat pula tanggung jawab perannya itu. Lantas, kenapa masih dianggap bahwa Ibu Rumah Tangga itu pekerjaan sampingan?? Atau bahkan disebut pekerjaan hina, yg hanya dilakukan oleh wanita yg kurang cerdas dan lemah??

Dengan beratnya beban dan tanggung jawab itu, justru wanita karirlah wanita yg sangat lemah. Hanya bisa berfungsi untuk satu fungsi kerja di kantornya. Dan bahkan, biasanya wanita karir lebih nurut sama Bossnya ketimbang suaminya. Karena pikirnya bahwa Boss-lah yg menggaji, sedangkan suami tidak. Padahal, disamping beban berat yg diembang seorang istri, suami juga dibebani mencari nafkah menurut Islam. Jadi klo ada suami yg menyerah dalam mencari nafkah, tidak ubahnya seperti banci. Seorang suami hendaknya bertanggung jawab, karena memang dari segi fisik Allah ‘melebihkannya’, dan ini sudah sesuai fitrah juga.

Nah, dari paparan di atas, masihkan pekerjaan Ibu Rumah Tangga dianggap hina?? Masihkan dianggap pekerjaan sampingan yg membosankan, yg tidak bernilai apa2?? Klo kita berkata tidak demikian, maka seorang istri hendaknya tidak perlu malu, bahkan mesti bangga klo jadi Ibu Rumah Tangga. Dan suamipun gak perlu minder dengan profesi istrinya. Justru dengan begitu, peran pasangan sesuai dengan fungsinya. Dimana pasangan berarti saling melengkapi yg tidak lengkap, bukan saling menggantikan atau bahkan berlomba saling menjatuhkan. Ibaratnya, sepasang sepatu, tentunya adalah satu sepatu kanan dan satunya lagi kiri. Dalam hal ini, tentunya keduanya berbeda bentuk tapi saling melengkapi. So, sungguh hebat seorang istri yg jadi Ibu Rumah Tangga. Dengan seabreg beban yg dibebankan, masih sanggup pula melayani suami dengan senyuman dan kasih sayang. Berbahagialah suami yg memiliki istri seperti itu. Berdoalah!!

(Repost dari blog sebelumnya http://rizts.blog.m3-access.com/posts/21570_Pekerjaan-Hina-Wanita.html)

15 com

Saya sering denger dimana orang2 berbicara bahwa segala sesuatu dilihat menurut situasi dan kondisi. Dalam hal ini bisa benar dan bisa juga salah. Bisa benar klo memang kondisi yg dimaksud bener2 terjadi. Salah apabila hanya akal2an karena hendak mengikuti hawa nafsu semata.

Ada juga yg mengatakan bahwa sebagai laki2, hendaknya bisa mendidik istrinya. Sehingga klo ada calon yg menurut agama kurang, tentunya tidak masalah karena toh laki2 yg wajib mendidik. Tapi dari sekian tanggapan yg bernada seperti ini, justru sampe saat ini istrinyapun masih gitu2 aja. Gak tau masalah hijjablah, gak ngerti urusan rumah tangga, dll. Padahal di sisi lain, orang ybs menyarankan masalah “pentingnya mendidik istri” bagi suami.

Atau mungkin ada fenomena lain dimana kita cukup berpegang teguh selama dasar hukum tersebut shahih. Mungkin benar, tapi bisa juga salah. Bisa benar klo kondisi yg dimaksud adalah kondisi normal pada saat hukum tsb berlaku. Akan salah klo kondisinya hanyalah terjadi pada saat2 tertentu.

Dari semua itu, pendapat ummat yg awam justru biasanya hanya didasarkan pada kenyataan bahwa hal tsb banyak pelakunya. Artinya, lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas.

So, bagaimana mungkin Islam bisa tegak klo kita cuman bisa jadi Minimalis??? Ingatlah bahwa yg dinilai Allah adalah kualitas, bukan kuantitas. Wallahu’alam

416 com