-
4
Apr
Penulis : MHM
“Sungguh pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21)
Firman Allah di dalam Al Quran surah al-Ahzab ayat 21 tersebut memberitahukan bahwa idola setiap Muslim (termasuk remajanya) adalah Nabi Muhammad SAW. Sebab beliau merupakan panutan yang sempurna (uswatun hasanah). Remaja Muslim di Indonesia seharusnya mempelajari sejarah hidup panutan
umat ini, agar dapat mengidolakannya.
Tetapi sayang, sebagian besar remaja yang beragama Islam di Indonesia tidak menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola mereka tetapi justru para public figure, selebritis yang pada umumnya hidup serba glamour dan berhura-hura.
Sebagai contoh, ketika KH Fakhruddin HS (tokoh dan pemuka Islam, Ketua Umum PP Muhammadiyah) meninggal, meninggal pula Nike Ardilla, selebritis remaja yang sedang naik daun pada waktu itu, media massa baik di ibukota
maupun daerah sedikit saja memberitakan meninggalnya ulama dan tokoh Islam itu, sebaliknya berita tentang meninggalnya Nike Ardilla memenuhi haiaman Koran, tabloid, majalah serta tayangan di televisi. Salah satu
penyebabnya mungkin karena Nike Ardilla merupakan idola kaum remaja, termasuk yang beragama Islam.
Contoh lain lagi, setelah API (Akademi Fantasi Indonesia) sukses, pemenangnya langsung menjadi idola
remaja, dalam hal ini Fery dan Mawar. Tak selang lama, muncul pula Indonesian Idol yang melahirkan idolalain, yaitu Delon dan Joy. Tak ketinggalan, KDI (Kontes Dangdut Indonesia) melahirkan pula idola lain, di antaranya Aan dan Siti.
Makin Kabur
Program-program sejenis pun bermunculan dalam berbagai bentuk dan variasi. Tak hanya di bidang tarik suara, bisnis ini juga merambah ke dunia modeling dan akting. Anak-anak remaja (termasuk yang beragama Islam) pun “digarap”.
Misalnya lewat acara API Junior dan Bintang Cilik.
Demam “acara mencetak idola” itu tak sekadar menyedot perhatian remaja, tetapi juga para orang tua. Walhasil, semuanya ramai-ramai menikmati sajian yang membuat mereka mengidolakan bintang-bintang hasil remakaya televisi. Sebagai bukti dukungan, mereka mengirim SMS ke masing-masing idola. Hasilnya, sekitar 5 juta SMS yang dikirim untuk API 1 dan 8 jutaan untuk API II. Siapa dalam hal ini yang beruntung? Tentu perusahaan telepon seluler dan mitra usahanya.
Jangan heran jika seorang ABG mencoba bunuh diri, hanya gara-gara hobinya nonton API atau sejenis dihalangi kakaknya yang ingin menonton acara lain, Jutaan pemirsa rela duduk serius di rumah menonton tayangan yang membius itu. Yang melihat secara langsung, tua muda dan bocah cilik, histeris dan bergoyang sambil bernyanyi. Ketika proses eliminasi berlangsung, air mata pun menetes di mana-mana.
Berbeda dengan para remaja pada zaman Nabi. Air mata mereka menetes ketika membaca ayat-ayat Al Quran yang berisi wa’id fancaman azab neraka). Karena hati belum terisi iman yang substansial, maka remaja menjadi haus idola yang sekuler, yang lebih menampilkan aspek-aspek fisik seperti keren, gagah, ganteng atau cantik. Penonton dibuat terpesona dan rela mengirim SMS sebanyak-banyaknya, hanya agar idola mereka menang. Besoknya, remaja kebanjiran idola, yang sayangnya, terpilih bukan karena kualitas kepribadian atau keteladanan, melainkan hanya
karena mendapatkan respons via SMS paling banyak.
Antara Tuntunan dan Tontonan
Di sisi lain, sosok-sosok yang menampilkan keteladanan begitu langka. Figur-figur tertentu yang seharusnya menjadi teladan, nyatanya lebih tampak sebagai selebritis. Lebih menjadi tontonan di panggung ketimbang tuntunan dalam kehidupan sehah-hari, Maka kaum remaja perlu memahami hakikat idola dan teladan. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Orang yang tak patut diteladani, pasti tak layak dijadikan idola. Pertanyaannya kemudian, mau dibawa ke mana remaja umat ini? Siapa yang bertanggung jawab terhadap nasib umat yang, sadar atau tidak, perlahan makin terperosok ke jurang kehancuran? Mengapa orang lebih suka mencetak idola daripada keteladanan?
Dibutuhkan langkah-langkah cepat dan segera untuk menyelamatkan umat dari salah memilih figur. Hasilnya memang tak bisa dinikmati dalam waktu dekat. Menghadirkan sosok-sosok panutan jauh lebih sulit. Seperti halnya merusak jauh lebih mudah ketimbang membangun, Melahirkan figur teladan lebih banyak tantangan dan kendalanya. Kondisi ini pulalah yang hendaknya makin mendorong kesungguhan dan keseriusan dalam menggarap proyek-proyek keumatan, yang salah satunya adalah mencetak sosok-sosok teladan.
Analoginya sederhana. Kalau para pengusung kemungkaran sangat serius melakoni pekerjaan mereka, lantas mengapa kita yang bekerja pada proyek kebajikan begitu malas dan asal-asalan? Padahal, makin giat musuh umat menebar maksiat, mestinya kita makin giat menebar makruf secara konkret di tengah masyarakat.
Banjir idola hura-hura tetapi kering keteladanan membuat generasi muda kita kian lemah di berbagai lini. Lemah iman, lemah hati, lemah akhlak, lemah kemauan dan lemah kreativltas. Hasilnya lihat saja. Banyak remaja yang ingin cepat terkenal dan jadi idola, meski untuk itu rambu-rambu akhlak pun ditabrak!
Tak Berputus Asa
Betapa pun, kita punya Rasulullah SAW yang menjadi teladan sepanjang zaman. Bukan hanya umat Islam yang mengidolakannya, Banyak cendekiawan yang meskipun tidak memeluk Islam menyanjung Muhammad SAW laiknya idola. Michael H Hart, seorang penulis Barat, bahkan menempatkan Muhammad sebagai sosok yang paling mempengaruhi sejarah dan peradaban dunia.
Terdapat juga banyak sahabat Rasulullah ridhwanullahi ‘alaihim yang berjuang menegakkan kebenaran.
Jejak perjuangan mereka terekam indah dalam sirah (biografi). Sayangnya, buku-buku sirah yang banyak memuat contoh hidup indah dan berkualitas dari Rasulullah SAW dan para sahabat tak begitu diminati. Ulama yang merupakan pewaris para Nabi tak begitu laris diikuti.
Namun demikian, kita tak boleh berputus asa. Upaya membina remaja agar mengidolakan Nabi-Muhammad SAW harus tetap dilakukan. Caranya, intensifkan kembali pembinaan terhadap bocah-bocah dan ABG. Baik yang ada di sekolah, di rfjma’h dan di sekitar kita. Termasuk remaja yang pendidikannya terlantar, baik oleh kemiskinan ataupun oleh orangtua mereka yang kelewat sibuk sehingga lalai dari tanggungjawab mendidik anak sendiri.
none