Setiap kali lebaran, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan. Baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha yg sebentar lagi kita jelang. Dan ali inipun masih saja tidak ada satu kesepakatan, ada saja perbedaan. Dan masing2 mengklaim sebagai yg benar.

Padahal, dalam setiap perbedaan, hendaknya kita jadikan pertanyaan, bukan jadi ajang perdebatan kusir (kusir aja gak pernah debat :P).

Tapi ya itu dia, justru sering kali kita jadikan ajang berdebat. Masing2 merasa paling benar dengan memakai referensi (dalil) masing2. Baik itu pemerintah, ormas Islam, parpol Islam, semuanya gak mau sepakat.

Coba saja, klo masing2 kelompok mau mendengarkan alasan dari kelompok lain, terus dikaji bersama2, diambil yg paling kuat.

Dan klo kita merujuk pada Rasul, ternyata Rasul lebih memilih melihat hilal terlebih dahulu, ketimbang hisab. Karena, dengan melihat hilal, tentu datanya aktual. Berbeda dengan hisab, yg hanya menggunakan teori untuk menghitung. Atau dengan kata lain, metoda melihat hilal lebih praktis, sedangkan hisab lebih ke arah teoritis.

Klo keadaannya seperti sekarang, tentunya umat - yg notabene masih banyak yg awam - akan kebingungan dalam menentukan pilihan. Dan klo udah gini, biasanya mereka memilihnya berdasarkan figuritas/kelompoknya. Dan ini sangat tidak ilmiah dan benar.

Emang seeh, dalam kondisi negara2 berpenduduk Islam seperti skrg, bakal susah dicapai kesepakatan. Karena negara2 berpenduduk Islam tidak punya satu sumber rujukan. Dan kondisi seperti ini bisa tercapai apabila umat Islam ada dalam satu naungan khilafah. Dengan begitu, bukan hanya masalah penentuan hari raya saja, tentunya dalam urusan fatwapun akan lebih bisa dicapai kesepakatan. Karena itu, hendaknya kita terus berdoa agar segera terbentuk pemerintahan Islam di bawah satu naungan khilafah. Semoga ….

none

Kita sering lihat, bagaimana seorang blogger mempromosikan blognya. Baik itu via status message di messenger, atau via broadcast di messenger. Ada juga yg promosi di forum, baik itu yg secara khusus lewat suatu topik, atau di signature yg dipake. Dan lewat signaturepun bisa dilakukan di setiap pengiriman email. Atau juga lewat pengiriman artikel ke suatu milist yg diambil dari blog si blogger, tentunya dengan referensi url ke blognya.

Memang beragam cara blogger mempromosikan blognya. Tapi, terlepas dari itu semua, kesannya koq gak ikhlas ngeblognya ya? Seolah2 klo kita ngeblog, harus dilihat oleh banyak orang. Ini bisa terlihat dari tujuannya membuat blog, yaitu hanya ingin dilihat banyak orang, bukan ungkapan ekspresi atau idenya.

Mau diakui atau tidak, bahwa setiap orang senang dengan popularitas. Tapi hendaknya kita populer bukan karena iklan. Tapi populer karena ide atau tulisan kita emang bagus dan bermanfaat. Toh, klo tulisan kita bagus, orang lain akan dengan mudah mencarinya pake bantuan Oom Goole, atau Tante Yahoo.

Seperti halnya iklan, kita bisa saja menayangkan iklan secara berulang2 dalam durasi yg cukup lama, orang bakal dengan mudah mengingatnya. Tapi, begitu iklannya abis dan gak muncul lagi, tentunya mudah juga kita untuk melupakannya. Berbeda dengan iklan yg kreatif, dimana durasinya gak terlalu panjang dan penayangannyapun tak gencar, tentunya orang akan lebih lama mengingatnya.

Blogpun demikian. Dalam arti, kita tidak perlu melakukan spamming via broadcast message, atau broadcast lainnya, hanya untuk promosi. Karena itu, kreatiflah, dengan kreatif blog kita akan didatangi orang dengan sendirinya. Gak perlu pake iklan segala. Apalagi pake menuh2in message archivenya orang.

none

Klo kita jalan2 ke mall, banyak kita jumpai cewek2 pake pakaian super ketat. Tapi, sebenarnya seeh gak perlu ke mall, wong di sekitar kita juga sering menjumpainya koq. Dan usianya pun beragam, mulai dari yg masih sekolah, kuliah, sampe yg tante2 juga pake yg sama. Nyamankah?? Belum tentu, klo modis, kayaknya seeh mereka bakal kompak menjawab, “Tentu donk”. Tapi benarkah??

Klo kita mau sedikit melakukan penelitian kecil2an, terutama yg menyangkut masalah kenyamanan, kita sering lihat koq. Tidak sedikit bahwa mereka yg pake pakaian super ketat itu justru sering merasa tidak nyaman, terlebih klo di dekatnya ada cowok. Misalnya klo mereka mo naik or turun angkot, pasti tangannya narik kaosnya yg super ketat itu. Atau klo pake rok yg kurang bahan, pasti dia bakal pake tangan atau bukunya buat nutupin. Bisa juga klo belahan lehernya terlalu bawah, pake buku juga buat nutupin. Lantas biasanya saya berpikir, “Apa mereka semua itu munafik??”

Kenapa saya katakan munafik?? Karena di satu sisi mereka kayaknya ngikutin banget trend yg berkembang sekarang, terutama di dunia barat sono.Tapi di sisi lain, mereka tidak sepenuhnya siap mengumbar tubuhnya untuk dinikmati orang lain.

Mungkin bagi cowok, mau diakui atau tidak, yg jelas senang melihat pemandangan seperti itu. Cuman biasanya ada tiga sikap yg bakal dilakukan itu cowok. Pertama, mereka langsung memalingkan muka, terlebih klo sudah paham dan sadar betul tentang agama. Kedua, biasanya tipe yg malu2 kucing. Model gini biasanya curi2 pandang klo ada sedikit pemandangan. Nah, klo yg ketiga ya langsung pelototin aja.

Terlepas dari perbedaan tsb, adalah fitrah bagi laki2 senang melihat yg model gituan. Tapi anehnya, terkesan pameran tapi gak mau dilihat?? Sungguh benar2 munafik.

Ya, kita semua akui klo di jaman yg super edan kayak gini, makin banyak godaan bagi laki2. Klopun si cowok itu sadar, dan berusaha memalingkan muka, eh di arah memalingkan mukapun biasanya ketemu hal serupa. Sungguh berat sekali godaannya. Karena itu, sadarlah wahai wanita, bahwa sesungguhnya engkau adalah menarik, karena itu lindungilah sehingga kau bener2 bagai mutiara yg berharga. Jangan asal ngikutin mode, alih2 modis, justru yg terlihat adalah kesan nudis.

none

Anak muda jaman sekarang (sebenarnya, masih muda juga koq ) pasti sudah pada kenal dan mungkin sudah pada praktek pacaran. (Wong aku juga pernah koq ). Dan tidak sedikit pula, anak SD pun, sudah mengenal dan mempraktekan hal yg satu ini. Gak tau dari mana mereka tau, cuman kayaknya seeh dari tv. Karena klo kita mau melihat umur, tentunya anak sekecil itu gak semestinya udah tau.

Oke, mungkin tadi cuman prolog. Mari kita coba ulas lebih lanjut. Dan ternyata, klo kita melakukan pacaran, bisa jadi dua2nya rugi, cuman yg paling rugi ya wanita. Oke lah, kita jangan langsung bilang “dosa”, karena sudah barang tentu kita semua sudah tau, cuman biasanya bikin kebanyakan kuping pada panas, klo mendengar kata tsb. Dan emang, sebenarnya diluar “dosa” itu sendiri, masih tersimpan banyak kerugian. Klo dari sisi cowok, tentunya pada saat2 awal penjajakan (alias dalam masa penyergapan ), tentunya banyak keluar modal khan?? Padahal, klo modal itu mau kita alokasikan ke hal2 yg lebih produktif, wah banyak tuh untungnya. Cuman, klo dialokasikan untuk pacaran, mestinya seorang cowok berani ngomong gini (minimal dalam hari), “Siapa lo, istri bukan, saudara bukan, eh banyak mintanya lo”. Cuman mungkin, kebanyakan dari kita mikirnya gini, “Skrg gw keluar modal, nanti lo gw yg balik minta jatah” (Ups! ).

Klo pikiran pertama yg keluar, berarti pikirannya masih sehat dan gak ngeres (klo kotor mah disapu aje ye …). Tapi, klo pikiran kedua yg muncul, disinilah salah satu kerugian yg menimpa cewek. Suatu saat nanti, bisa saja klo si cewek sudah terperangkap (dan klo seorang cewek bener2 mencintai cowoknya, biasanya seeh si cowok sudah punya kartu As <bukan Jempol > ), ya si cowok tinggal narik setoran, wong DP-nya udah duluan koq. Klo si cowok masih rada2 alim seeh, mungkin paling banter cuman pegang2 doank. Tapi ada juga tipe2 malpinas, dimana tampangnya doank yg alim, aksinya busyetttttttt. Apalgi, klo si cowok bener2 agresif dan tipe yg gak mau tau, udah deh. Klo ngapel, sambil bawa balon. Dan yg model gini, sudah bukan dianggap tabu lagi. Apalagi di Jakarta udah ada ATMnya.

Oke, kita lupakan hal tsb sejenak. Biasanya, alasan mereka dalam berpacaran adalah sebagai penjajakan. Masa iya seeh penjajakan? Masa penjajakan gak kenal batas waktu?? Klopun ada jatuh temponya, biasanya klo udah ngerasa bosen. Dan lagi2 korbannya adalah wanita. Karena wanita akan dianggap tidak lebih dari barang dagangan, yg bisa kapan aja dicoba sampe bosen. Klo bener2 penjajakan mah, wong masa percobaan karyawan aja biasanya cuman 3 bulan. Ya, artinya gak selama praktek yg sekarang terjadi. Namanya juga penjajakan, ya buat mengenal doank, dan itupun untuk hal2 yg umum2nya. Lagian, gak jamin juga, klo orang pacarannya lama, lantas nikahnya langgeng.

Nah, dari situ sedikit terkuak deh tujuan dari pacaran, yaitu penjajahan. Penjajahannya bisa dari kedua pihak. Klo dari cewek, ya biar bisa morotin si cowok iinocent. Klo dari sisi cowok, tentunya bisa dikatakan ’suatu bentuk penguasaan’ (weleh2, kayak bahasa hukum ). Coba klo menikah, bisa dimasukkan kategori KDRT, cuman berhubung blom menikah ya gak bisa dituntut atuh. Lagian gak ada pengadilannya koq, wong suka sama suka. Karena itu, cobalah berpikir sehat (jangan kotor bin ngeres ), harus lihat ke depan. Jangan sampe, kita terjebak pacaran hanya untuk tujuan2 diatas. Atau klopun tidak, karena gak mau disebut gak gaul. Emang apa untungnya jadi anak gaul?? (Dulu gw malah jadi bokek, gara2nya gak tajir, selera tinggi ). So, buat para cowok, jangan salah gunakan kekuasaan. Klo buat cewek, ya jangan salah gunakan kepuasan (eh, maksudnya pemuasan ).

Sebuah coretan menunggu maghrib dan hujan

none

Dibalik “Topeng” Muslimah

Akhir2 ini, terkadang kita merasa bangga dengan kondisi saat ini. Banyak sekali muslimah yg makin sadar (setidaknya terkesan sadar) memakai jilbab (atau apa ya namanya??). Hampir di berbagai tempat kita jumpai, wanita2 muslimah pada pake jilbab, entah itu di Mall, Kampus, Pasar, tempat kerja, dll. Semua itu, sedikitnya memberikan sebuah harapan yg besar.

Di sisi lain, pemakaiannya koq tidak diimbangi dengan pengetahuan yg cukup tentang menjaga hijab, dalam hal ini tau konsekuesinya. Tentunya, lebih baik lagi klo ditambah pengetahuan yg cukup tentang agama. Misalnya, tau tentang hukum bersentuhan tangan, ikhtilat, dsb. Tapi, kenyataan di lapangan, koq beda jauh banget. Sampe2 saya sendiri gak bisa langsung respect sama yg pake jilbab, harus lihat2 dulu gitu.
Tidak sedikit yg pake jilbab tapi pacaran, atau bahkan nginep di tempat cowoknya. Dalam hatipun bergumam : “Wah, ada kebo pake kerudung neeh”. Aneh. Saya koq jadi merasa aneh yah, apa mereka gak ngerti, bego, atau gimana?? Klo bodoh, ya sadar diri lah, belajar gitu, wong saya aja masih bodoh koq. Dan anehnya lagi, pandangan kebanyakan kita menganggap bahwa klo udah pake jilbab, langsung dibilang sholehah lah, atau apapun namanya.

Suatu ketika saya ketemu temen2 saya, kebetulan baru beberapa hari setelah lebaran.
Biasalah, kebiasaan di kita khan baru pada minta maaf setelah lebaran. Tak sedikit dari mereka yg pada bawa ceweknya yg pake topeng (baca kerudung). Dan tambah aneh lagi, cewek2 di sana yg pada pake topeng tsb langsung ngajak salaman. Saya hanya angkat tangan di depan dada aja deh. Saya hanya berpikir, mungkin mereka blom paham. Tapi anehnya, koq tiap tahun sama aja yah?? Gitu2 juga?? Bodoh koq dipelihara. Malu2in banget.

Dari kejadian tsb, saya koq kadang jadi berburuk sangka. Jangan2 mereka pake topeng hanya karena gak bisa dandan, atau kurang gaul aja. Biar bagaimanapun juga, gini2 juga pernah gaul gitu lho .., hehe. Dan emang kebanyakan ya emang gitu, yg pada pake topeng hanya karena gak bisa dandan, atau gak biasa gaul biasanya. Karena pas saya ajak diskusi masalah gaul dan tempat2 gaul, pada gak tau tuh …

Lantas, apa kita mesti diam saja?? Terus terang, saya blom bisa nasehatin orang, wong saya sendiri masih banyak yg perlu diberesin. Mungkin, saya hanya bisa berdoa, semoga mereka tambah paham aja deh. Mungkin juga, ada rekan2 yg sanggup, ya silahkan, saya support dengan doa aja deh, maklum imannya masih sangat sangat lemah.

Ada baiknya, kaum wanita merenungi ayat di bawah ini :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur, 24:31)

Mudah2an Allah senantiasa menunjukkan jalan-Nya kepada kita semua selaku hamba-Nya. Amin.

none