-
29
Dec
Setiap kali lebaran, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan. Baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha yg sebentar lagi kita jelang. Dan ali inipun masih saja tidak ada satu kesepakatan, ada saja perbedaan. Dan masing2 mengklaim sebagai yg benar.
Padahal, dalam setiap perbedaan, hendaknya kita jadikan pertanyaan, bukan jadi ajang perdebatan kusir (kusir aja gak pernah debat :P).
Tapi ya itu dia, justru sering kali kita jadikan ajang berdebat. Masing2 merasa paling benar dengan memakai referensi (dalil) masing2. Baik itu pemerintah, ormas Islam, parpol Islam, semuanya gak mau sepakat.
Coba saja, klo masing2 kelompok mau mendengarkan alasan dari kelompok lain, terus dikaji bersama2, diambil yg paling kuat.
Dan klo kita merujuk pada Rasul, ternyata Rasul lebih memilih melihat hilal terlebih dahulu, ketimbang hisab. Karena, dengan melihat hilal, tentu datanya aktual. Berbeda dengan hisab, yg hanya menggunakan teori untuk menghitung. Atau dengan kata lain, metoda melihat hilal lebih praktis, sedangkan hisab lebih ke arah teoritis.
Klo keadaannya seperti sekarang, tentunya umat - yg notabene masih banyak yg awam - akan kebingungan dalam menentukan pilihan. Dan klo udah gini, biasanya mereka memilihnya berdasarkan figuritas/kelompoknya. Dan ini sangat tidak ilmiah dan benar.
Emang seeh, dalam kondisi negara2 berpenduduk Islam seperti skrg, bakal susah dicapai kesepakatan. Karena negara2 berpenduduk Islam tidak punya satu sumber rujukan. Dan kondisi seperti ini bisa tercapai apabila umat Islam ada dalam satu naungan khilafah. Dengan begitu, bukan hanya masalah penentuan hari raya saja, tentunya dalam urusan fatwapun akan lebih bisa dicapai kesepakatan. Karena itu, hendaknya kita terus berdoa agar segera terbentuk pemerintahan Islam di bawah satu naungan khilafah. Semoga ….
none
) pasti sudah pada kenal dan mungkin sudah pada praktek pacaran. (Wong aku juga pernah koq
). Dan tidak sedikit pula, anak SD pun, sudah mengenal dan mempraktekan hal yg satu ini. Gak tau dari mana mereka tau, cuman kayaknya seeh dari tv. Karena klo kita mau melihat umur, tentunya anak sekecil itu gak semestinya udah tau.
), tentunya banyak keluar modal khan?? Padahal, klo modal itu mau kita alokasikan ke hal2 yg lebih produktif, wah banyak tuh untungnya. Cuman, klo dialokasikan untuk pacaran, mestinya seorang cowok berani ngomong gini (minimal dalam hari), “Siapa lo, istri bukan, saudara bukan, eh banyak mintanya lo”. Cuman mungkin, kebanyakan dari kita mikirnya gini, “Skrg gw keluar modal, nanti lo gw yg balik minta jatah” (Ups!
).