Dari Anas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila Allah menghendaki kebaikan buat hamba-Nya, maka disegerakannya hukuman di dunia ini. Sebaliknya bila Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya, maka ditahannya hukumannya di dunia dan dibalaskan di akhirat. (HR At-Tirmizy)

none

Islam adalah agama yang memadukan antara otak dan hati. Keduanya saling terkait, walaupun kedukukan hati, dalam hal ini iman lebih kuat. Karena sesungguhnya, dimana suatu keadaan tidak bisa dilogikakan, pada hakekatnya bukan tidak bisa, tapi otak manusia jaman sekarang masih belum mampu. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Thoha ayat 110: “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”

Begitu eratnya kaitan antara iman dan akal, sehingga selama ilmu tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan kita, hendaklah kita mempelajarinya.

Adapun di jaman sekarang, terutama di Indonesia, kedudukan ilmu sama sekali tidak dihargai. fakta ini terlihat dari dukungan pemerintah maupun media massa. Misalnya saja, bagaimana berita tentang siswa Indonesia yg menjadi juara di olimpiade Fisika, serta sikap pemerintah terhadap siswa berprestasi tersebut. Bandingkan dengan fenomena macam AFI, Indonesian Idol, dan sebangsanya, yang oleh para artis sekalipun dianggap kontes karbitan. Dan yang tambah aneh, umat Islam seakan tau mau ketinggalan untuk mengadakan kontes-kontes semacam itu. Mana ada hapidz karbitan, atau da’i karbitan, atau segala macam tektek bengek karbitan. Baca Al-Qur’an parameternya ta’at dan ikhlas. Begitu pula ceramah sebagai dakwah, bukan didasarkan pada pujian dan dukungan SMS. Tapi, begitulah faktanya, bahwa akhir-akhir ini hal semacam itu adalah sebuah prestasi yang besar dan membanggakan bagi pemenangnya. Kenapa kita tidak bertanya, sumbangan apa dari kontes-kontes semacam itu demi kemajuan sebuah peradaban? Apakah internet lahir dari kontes-kontes semacam itu? Atau mungkin satelit dikembangkan dari lomba murahan tersebut? Tidak sama sekali. Hal semacam itu tidak ada berpengaruh banyak para kemajuan sebuah peradaban.

Kalau kita cermati, di abad ini Islam masih terpuruk, dalam berbagai aspek. Mulai dari aspek ekonomi, politik, iptek, dan sebagainya. Peradaban Islam akan maju kalau dibarengi dengan kemajuan di berbagai aspek tersebut, tentunya dibarengi landasan keimanan dan ketaqwaan yang kuat. Dana dalam hal ini, kita coba titik beratkan pada iptek, tanpa bermaksud menganggap sepele aspek lain. Tapi, aspek ini sangatlah urgent. Sudah saatnya kita merenung kembali, bahwa kemajuan suatu peradaban lahir dari kemajuan ilmu pengetahuan. Mari kita hargai otak kita, sebagai anugerah Allah, dengan menggunakannya sesuai kehendak-Nya. Wallahu’alam

none